Senin, 24 Agustus 2009 - 12:20:39 WIB
Menjadi Dermawan
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Tahukah Anda
- Dibaca: 255 kali
Di antara kebiasaan Dzun Nun Al Mishri ialah senang "uzlah (untuk bertafakur)" di hutan. Satu hari ketika ia berada di hutan bersama seorang muridnya, mereka melihat seekor burung yang tergeletak di tanah, menggelepar-gelepar, tidak dapat terbang karena sayapnya patah. Tidak lama kemudian datang seekor burung lain membawakan makanan untuk burung yang malang itu. "Ternyata tanpa harus berusaha mencari makanan sekalipun, burung yang malang itu dapat bertahan hidup berkat bantuan burung lain," ujar sang murid. Dengan bijak Dzun Nun Al Mishri menasehati muridnya, "Seharusnya kamu tidak berpikir menjadi burung yang patah sayap itu. Tetapi berniatlah menjadi burung yang memberi makan, yang dapat menolong saudaranya." Lalu beliau mengutip sabda Nabi SAW, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah" (HR.Bukhari - Muslim).
Itulah Islam yang antara lain mengajarkan pemeluknya untuk menjadi penderma dan penolong bagi yang membutuhkan . Ini tercermin misalnya dari ajaran zakat (Al Baqarah (2) : 43, 48 dan 110. Al Ahzab (33) : 33. Al Mujadilah (58). Bahkan zakat dijajarkan sebagai pilar rukun Islam. Ini menunjukkan, menolong orang yang membutuhkan mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.
Menarik lagi, janji Allah SWT dalam As-Saba (34): 39, kendati kita banyak bederma, itu tidak akan mengurangi harta kita. Allah SWT pasti akan mengganti dan menambahnya. Firman-Nya "Katakanlah, sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah SWT.akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki ".
Dermawan merupakan salah satu sifat yang terpuji dan mulia. Orang yang dermawan pada hakikatnya merupakan bentuk konkret dalam meneladani sifat Allah SWT dan Rasul-Nya. Disampaikan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasul SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT itu Zat Yang Maha Penderma, karena itulah Dia menyukai sifat dermawan" (HR.Turmuzi). Dengan demikian, kilah Abdul Halim Fathani dalam buku Ensiklopedi Hikmah, tidak ada alasan lagi bagi umat manusia untuk bersifat kikir atau bakhil, karena itu berlawanan dengan sifat Allah SWT dan rasul-Nya.
"Karena itu, dalam situasi sesulit apa pun, seorang mukmin akan selalu berusaha menjadikan tangannya di atas, dalam artian ia akan selalu berusaha untuk memberi kepada orang lain yang membutuhkan. Ia akan selalu berusaha sesuai dengan kemampuannya menempatkan dirinya sebagai mushaddiq (orang yang bersedekah) atau munfiq (orang yang berinfak), bukan sebaliknya, tangannya selalu berada di bawah, mengandalkan hidup dan kehidupannya pada belas kasihan orang lain," tutur KH.Didin Hafidhuddin MSc, dalam tulisannya Tangan di Atas. Sebab Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya semulia-mulianya orang mukmin adalah yang paling rajin bangun malamnya (untuk beribadah) dan yang paling gagah adalah yang tidak mengandalkan hidupnya pada belas kasihan orang lain." (HR.Baihaqi dari Jabir).
Wallahu'alam.







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




