Selasa, 08 September 2009 - 13:46:22 WIB
Sholat Yuk, Nak!
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: IdeA
- Dibaca: 239 kaliSetiap sore biasanya ibu-ibu tetangga saya pada kumpul sambil menunggu Maghrib. Ada yang memberi makan anaknya, ada yang sekedar duduk-duduk sembari ngobrol-ngobrol santai, kebetulan saya ikut duduk santai di antara para ibu-ibu ini.
Sedang asyiknya ngerumpi terdengar suara pengajian dari masjid dekat rumah saya, "Ayo mbak dan adek (panggilan untuk anak-anak saya) kita masuk, siap-siap sholat magrib!". Ada yang menyahut, "Eh, enak ya anaknya mau diajak sholat. Kalo anak saya-mah nggak mau. Inginnya mau main aja!". Ibu yang sebelahnya ikut komentar, "Mending itu, kalau anak saya sampai menangis menjerit-jerit kalo liat saya pake mukena. Dibilangnya hantu". Astaghfirullah, saya tersenyum getir mendengar celoteh ibu-ibu tadi .
Lain hari, seperti biasa setiap Kamis sore, saya silaturahmi dan sekalian ingin pijat tradisional dengan langganan saya di daerah Seberang Ulu I. Kebetulan sudah masuk sholat Ashar, kami shalat terlebih dahulu. Selesai sholat kami pun mengobrol sebentar. Di sela-sela obrolan itu si bibi (panggilan tuan rumah) menasehati saya, "Iya deh nak (panggilan kepada saya), kalau menasehati anak jangan mulutnya besar-besar. Entar si anak pada ngelawan ibunya, dan kalau mo shalat ajak saja anak-anaknya sejak kecil, bentangkan handuk atau kain bersih di samping kita. Biarlah ia main-main dalam sholatnya."
Ia melanjutkan, "Kalau bibi, dari anak pertama sampai yang bungsu, bibi ajak sholat. Tidak ada istilah, kalau anak masih kecil kita repot dan tidak sempat sholat. Semua tergantung dari niat kita". Saya termenung mendengarnya, walaupun si bibi ini memberikan nasehat yang "menurutnya biasa saja" namun bagi saya sungguh luar biasa.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT, ilustrasi di atas nyata. Dan dari dua kejadian tersebut bisa kita petik ibrahnya (manfaat). Satu sisi menunjukkan akidah seseorang tak bisa dilihat dari penampilan semata, ibu-ibu tetangga saya dari kecil hidup di kota, mungkin tak pernah merasakan bagaimana kehidupan di desa. Mereka tahunya ada. Yang namanya belajar agama hanya di sekolah-sekolah saja. Sedang ketika di rumah kurang mendapat perhatian dari orang tua dan hal itu akan terus membekas hingga berkeluarga.
Berbeda dengan si bibi tadi. Dia hidup rantauan, dari orang desa yang sehari-hari hidup apa adanya namun pemahaman agama (akidah) sudah ditanamkan oleh orang tuanya dari kecil sehingga terbawa sampai ia mempunyai beberapa orang anak.
Saya teringat hadist yang berbunyi "Setiap anak yang dilahirkan dalam kondisi suci. Tergantung orang tuanya apakah akan dijadikan seorang majusi, yahudi, atau nasrani". (HR Bukhori Muslim). Dari ilmu psikologi : "Anak itu bagaikan selebar kertas putih, yang bisa diisi dengan apapun tergantung dari kedua orang tuanya mau menjadikannya apa".
Mungkin! Kita sebagai orang tua menganggap sholat adalah hal yang sepele dan biasa saja, akan tetapi disadari atau tidak hal ini sangat berpengaruh dengan keimanan seseorang dan bagaimana akidahnya. Karena sholat adalah titik awal pendidikan utama orang tua terhadap anak-anaknya. Para orang tua tidak bisa menyalahkan anaknya apabila tidak punya rasa hormat, tidak mau berbakti dan sebagainya, bila pondasi awal keimanan seorang anak tidak diajarkan. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi apabila si orang tua sendiri tidak melaksanakan sholat.
Kita semua tahu, bahwa masa emas anak, dimulai dari usia 0 th sampai 7 tahun. Di mana proses perkembangan otak anak dimulai dari semua kejadian di luar lingkungan ataupun di dalam lingkungannya. Dan hal inlah yang akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sang anak ketika beranjak dewasa. Oleh sebab itu apapun pendidikan, konsumsi makanan dan pola hidup dari kedua orang tua sangat berpengaruh kepada tumbuh kembang si anak. Wallahualam bishawab.







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




