Selasa, 29 September 2009 - 13:27:39 WIB
M Abriza Hartawan : Freelance, Pegiat Komunitas Facebook Palembang
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 174 kali
Ketenangan hidup dan keleluasaan ibadah. Itu yang selama ini saya cari. Dan memang inilah yang seharusnya menjadi konsen seorang muslim. Berdasar pengalaman saya, lingkungan kondusif merupakan faktor utama yang mempengaruhi. Sulit sekali menjadi baik, seandainya lingkungan tampat kita bergaul justru lingkungan yang tanpa nilai (sekuler).
Ditambah, apabila dalam lingkungan tersebut kita tidak mempunyai wewenang apapun. Alias duduk sebagai bawahan. Saya teringat dengan salah satu hadist atau ayat al-quran, yang mengatakan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Artinya, untuk mengenal Tuhan, kita harus terlebih dahulu mengenal diri kita sendiri.
Sebelumnya, saya bekerja di salah satu bank swasta nasional. Dan dipercaya memegang posisi sebagai manager daerah. Tugas saya adalah mengontrol kerja dan kinerja para staf yang berada di daerah. Jadi saya itu kerjanya keliling dari satu daerah ke daerah lain yang ada di Sumatera Selatan. Dihitung-hitung sudah 11 tahun lebih saya mengabdi di bank tersebut.
Dan memang yang namanya bekerja di sektor swasta, pekerjaan yang ada lebih banyak daripada SDM yang tersedia. Alhasil, saya dan teman-teman staf yang lain berkutat penuh dengan pekerjaan masing-masing. Lupa dengan hal-hal lain. Dan tragisnya seringkali lupa dengan kewajiban ibadah terhadap Allah swt. Tahun-tahun terakhir adalah saat yang menggelisahkan bagi saya. Pada waktu itu bathin saya sering kali bertanya, apakah akan seperti ini terus? Bekerja dan terus saja bekerja setiap hari, seakan tiada habisnya. Sedangkan kewajiban lainnya terbengkalai.
Dari kepemilikan, bank tersebut dipunyai oleh orang-orang non-muslim. Sehingga, walaupun para petinggi sekelas managernya ada juga orang muslim, tetapi tetap saja keputusan yang dibuat harus mengacu pada kebijakan yang dibuat oleh orang pusat. Termasuk dalam hal menyusun jadwal kerja dan target pencapaian. Alhasil, seperti yang saya bilang, waktu kami sebagai karyawan tersita hanya untuk perkerjaan yang datang seolah menggelombang tak henti. Terasa sekali betapa keringnya sisi spiritual kami. Memang dari segi finansial, penghasilan yang didapat cukup untuk menghidupi untuk diri saya sendiri dan orang tua.
Akhirnya, setelah sempat memendam cukup lama saya memutuskan resign (mengundurkan diri) dari bank tersebut. Pihak keluarga dan sahabat sempat mempertanyakan keputusan saya. Terlebih orangtua yang sepertinya sangat keberatan. Tapi, saya berketetapan dalam hati. Allah pasti akan menolong hambanya benar-benar serius untuk memperbaiki diri. Apalagi sekedar masalah penghidupan.
Dan sekarang, sedikit demi sedikit saya mulai mengisi pengetahuan agama dan rohani saya. Saya ikut beberapa pengajian. Termasuk ikut jamaah pengajian Wisata Hati yang diasuh oleh Ustadz Yusuf Mansyur. Dan beberapa bulan lalu, tak lama setelah saya resign, saya ditunjuk teman-teman untuk mengomandani Palembang Facebook Community (PFC). Jadilah akhir Mei yang lalu, PFC resmi berdiri.
Jadi, saat ini walaupun istilahnya belum punya pekerjaan tetap, tapi ada saja yang meminta bantuan saya dalam hal pembukuan (akuntansi). (KJ-04)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




