Rabu, 30 September 2009 - 13:36:23 WIB
Antara sedekah dan keikhlasan
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Keajaiban Sedekah
- Dibaca: 409 kali
Urusan sedekah adalah urusan hati dan keikhlasan setiap umat di dunia. Ada yang merasa bahwa setiap harta yang ia terima adalah milik sekaligus hak pribadinya dan tidak untuk siapa-siapa apalagi untuk dibagi-bagikan.
Naudzubillahmindzalik.., namun ada banyak juga berpendapat bahwa setiap harta yang diterimanya adalah titipan Allah swt semata dan wajib disedekahkan kepada yang berhak.
Bagi hamba Allah yang merasa bahwa semua harta serta kedudukan adalah titipan, dengan jiwa yang besar dan hati yang tulus ikhlas akan mengeluarkan kewajibannya, walaupun apa yang dia cintai dia korbankan, walaupun dalam keadaan tak punya apapun dan terbelit kemiskian, akan tetap rela memberikanya demi mendapat Ridho Allah SWT.
Aku masih dalam taraf belajar tentang keimanan apalagi soal sedekah, aku hanya ingin berbagi cerita betapa Keajaiban Sedekah itu benar-benar ada dan Allah sungguh Maha Kaya dan Pemurah. Minggu siang, tak seperti biasa aku menyalakan TV, ketemulah salah satu TV Swasta yang menayangkan acara Keajaiban Sedekah, Tausyiah dibawakan oleh Ust. Yusuf Mansur dengan gaya bahasa sederhana, mudah dipahami, dibumbuhi bahasa gaul ala betawi, mudah dicerna, enak didengar dan langsung masuk dan mengena direlung hati yang dalam.
Dalam salah satu episodenya diceritakan mengenai seorang pemuda pengangguran yang sudah sekian tahun belum juga mendapatkan pekerjaan. Ada rasa gelisah ketika diri tak jua mendapatkan pekerjaan yang tetap. Malu rasa hatinya ketika setiap hari, untuk kebutuhan makan sehari-hari masih saja bergantung kepada orang tua dan kakak-kakaknya.
Suatu saat, di saat semuanya terasa begitu mendesak, dia bernadzar. Satu kalimat meluncur begitu saja dalam perkataannya. "Bila suatu saat nanti mendapat pekerjaan, saya tidak membutuhkan uangnya. Yang penting saya bekerja", begitu nadzarnya. Ia telah memasrahkan diri kepada keputusan Allah dengan tetap menjalankan apa yang dianggap perlu. Bermodal ijazah SMA yang telah lusuh, ia mencoba mengirimkan lamaran ke pintu-pintu perusahaan. Pekerjaan apa saja, yang penting masih ada lowongan yang tersedia. Asal bisa bekerja, mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Singkat cerita, akhirnya ia mendapat panggilan kerja. Ketika menghadap dalam sesi wawancara, ia pun diterima. "Tak perlu membuat CV dan cukup KTP saja, anda bisa langsung kerja. Dan tempat kerja anda bisa di lantai 1, 8, atau 10 di ruang mana saja. Anda kami terima sebagai office boy," begitu penjelasan sang pewawancara. Hari-hari melelahkan ia jalani dengan gembira. Karena, ia sangat bersyukur akhirnya mendapatkan pekerjaan juga. Dan yang kedua karena ia diterima tanpa perlu persyaratan khusus.
Satu bulan kemudian, pemuda tersebut gajian. Dia ingat akan janjinya bahwa dia tidak membutuhkan uang hasil dari gajinya, hanya pekerjaan saja. Sempat bimbang sesaat, begitu uang gaji telah ia terima penuh. Apakah ia harus menunaikan nadzarnya dahulu. Ataukah bisa dibayar setengahnya saja dulu.
Namun karena ia merasa telah dipermudah oleh-Nya, dalam mendapat pekerjaan, maka dengan jiwa besar, uang hasil keringatnya selama sebulan disumbangkan kepada kaum dhuafa. Dan hari pun berganti, Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih. Siapa sangka pemuda yang bekerja sebagai office boy tersebut telah ber-'gaji' hampir 8 juta - 10 juta per bulan.
Tapi tunggu dulu, dari mana penghasilan sebesar itu ia dapat? Ternyata, Allah memberikan rizki atasnya dari segala arah. Salah satu contohnya, saat pemuda tersebut disuruh membeli mie ayam beberapa porsi, si penyuruh memberikan uang Rp 200 ribu, dan kembaliannya diberikan ke pemuda office boy tersebut. Dan selalu saja ada rejeki yang datang tak disangka-sangka. Allah Maha Kaya dengan segala sifat kebesaran-Nya. Sekali lagi, sedekah adalah urusan hati dan keikhlasan yang lahir dari kebesaran jiwa.
Sebagaimana yang dituliskan dalam blog :
http://poporelasatia.blogs.friendster.com/
------------------------------------------------------------------------------------------------------
3 permohonan doa dari orang-orang yang meninggal dunia
Ya Allah, seandainya aku diberi kesempatan satu kali saja, aku akan melaksanakan sholat sunnah.
Ya Allah, seandainya aku diberi kesempatan satu kali saja, aku akan terus mengucapkan shalawat.
Ya Allah, seandainya aku diberi kesempatan satu kali saja, aku akan terus melaksanakan sedekah.
(Dikutip dari buku La Tansa)
------------------------------------------------------------------------------------------------------







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




