Rabu, 21 Oktober 2009 - 15:35:45 WIB
Seberapa kenyang perut kita...?!?
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: From Chairman
- Dibaca: 194 kali
Ada hal yang sangat miris manakala saya harus mengikuti perhelatan yang salah satu acaranya adalah jamuan makan. Utamanya adalah acara pernikahan atau acara syukuran lainnya. Tidak terkecuali acara-acara yang khusus teruntuk kaum muslimin saja ataupun acara yang bersifat umum. Pesta orang kaya ataupun orang biasa. Tidak ada beda. Kemirisan itu yakni pada saat melihat begitu banyaknya makanan yang bersisa pada piring-piring kotor yang berserakan. Nasi yang bersisa cukup banyak. Gulai-gulai makanan yang bahkan tidak tersentuh / dimakan sama sekali kecuali hanya secuil. Buah-buahan yang tak habis dimakan. Belum termasuk makanan- makanan kecil lainnya yang juga membekas dan tersisa.
Kemana hasrat lambung yang sebelumnya menggebu-gebu sehingga rela antre panjang dimeja hidangan..? Alasan apa yang dapat membenarkan kita dapat membiarkan makanan bersisa ( selain karena faktor teknis tentunya, mis; keasinan, kemanisan, dll )..? Apakah urusan habis-menghabiskan makanan adalah perkara sepele yang tidak usah terlalu dihiraukan..? Mari kita lihat substansinya...
Pertama, ada hikmah yang menyatakan bahwa perkara-perkara kecil terkadang mencerminkan sesuatu hal yang penting. Misalnya ; kalau kita ingin melihat kerapihan dan kebersihan pemilik rumah, maka jangan dilihat dari ruang tamunya ( karena itu hal biasa ), tapi lihatlah dari kamar mandi / WC nya. Dalam konteks seperti ini, menyisakan makanan yang diambil dengan "kalkulasi" kita sendiri mencerminkan bahwa ada sifat serakah dalam diri kita.
Lazimnya perhelatan jamuan makan, biasanya setiap kita dipersilahkan untuk mengambil sendiri hidangan yang sudah tersedia. Itu berarti ; kita mengambil hidangan dengan mata kita sendiri...? dengan selera hati kita sendiri...? dengan uluran tangan kita sendiri..? mengunyahnya dengan mulut kita sendiri...? serta makanan tersebut mengalir ke dalam perut kita sendiri...? Lantas, mengapa kita tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan sendiri tersebut...? Persoalannya ialah ada "salah perhitungan / misscalculate" antara hasrat hati dengan daya tampung lambung kita. Dengan rentang usia yang sudah dijalani, seberapa baik kita mengenal kapasitas perut kita...? Saya pikir tidak terlalu sulit. Karena makan adalah aktivitas yang pasti & mesti. Dari sini kita bisa mengetahui pola kapasitas kita. Kecuali kalau memang kita tidak pernah mau memikirkannya...!!
Ternyata apa yang dibutuhkan, tidaklah sebesar dengan apa yang menjadi "keinginan hati". Begitulah miniatur kebanyakan persoalan yang terjadi. Dalam sisi-sisi lain kehidupan, kita harus selalu bercermin & mengintospeksi diri seberapa besar perbedaan antara daya tampung, kebutuhan dan kemampuan kita dengan hasrat / keinginan kita. Sebab mengenali hal tersebut, tidaklah sesederhana mengenali pola kapasitas konsumsi kita. Bermimpi tidak dilarang. Ber-Visi itu mesti. Mempunyai keinginan yang tinggi juga adalah keharusan. Tapi kita juga harus tahu diri...!!
Jangan menyepelekan penyakit serakah. Keserakahan merupakan salah satu sumber utama persoalan kita. Nabi Adam AS tergelincir dari surga dikarenakan faktor serakah ( setelah sebelumnya digoda ). Korupsi yang merajalela di negeri ini, tidak lain tidak bukan juga karena faktor serakah. Menumpuk - numpuk harta dengan melakukan segala cara hingga bisa dinikmati oleh 7 turunan, apalagi yang melatarbelakanginya kalau bukan karena serakah. Dan tanpa disadari, kita memulai keserakahan tersebut bermula dari lambung perut kita. Na'udzubillahi min dzalik...
Kedua, menyisakan makanan adalah termasuk perkara mubazir. Dan Allah menyebut perbuatan mubazir didalam Al Qur'an adalah sebagai temannya syaithan ( Al Isra' 27 ). Perhelatan acara seperti pernikahan atau syukuran lainnya (: aqiqah, pindah rumah, dll ) adalah dipandang sebagai salah satu anjuran dalam Islam dan dapat bernilai ibadah. Hal itu adalah pertanda berbagi kebahagiaan kepada yang lain. Menghadiri undangan acara-acara seperti itu, insyaAllah dengan segala keikhlasan juga dapat bernilai ibadah di mata Allah SWT. Namun, apakah momen-momen mulia dan berbahagia tersebut ternyata dapat menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang dikategorikan sebagai kawannya syaithan. Siapa yang berkenan disebut sebagai kawannya syaithan...?
Ketiga, cobalah kita sejenak menolehkan pandangan ke sekitar kita. Tidak sedikit bilangan masyarakat kita yang begitu sulitnya untuk bisa makan sehari-hari dengan nasi dan lauk pauk secukupnya. Boro-boro bisa makan nasi dengan daging, bisa makan nasi berlaukkan ikan saja adalah kemewahan yang luar biasa.
Dahulu orang tua saya mengajarkan, kalau kita makan nasi masih bersisa, maka nasi itu akan menangis. Tidak jauh berbeda kenyataannya adalah, wallahu, saya menyaksikan seorang ibu yang masih menyusui anaknya terkecut menahan tangis, manakala saya tanyakan menu apa yang dikonsumsi sehari-hari, yang ternyata tidak lebih dari sekedar nasi dan sayur. Sesekali dengan tempe, itupun kalau ada. Saya tertegun, Allah kariim...
Keempat, pernahkah kita membayangkan betapa rumit dan melelahkannya setiap proses beras yang dikerjakan oleh para petani? DSIM mempunyai desa binaan, dimana mayoritas yang dinaungi dalam program tersebut adalah petani padi. Menjelang panen padi tahun ini, saya mengunjungi dan bersilaturahim dengan mereka. Momen yang tepat sekali, dimana saya bisa langsung mampir dipersawahan, ditempat dimana mereka sedang merontokkan atau menjemur padi. Keseluruhan proses tersebut, hingga dapat menjadi beras dan menjadi nasi yang kita santap, merupakan pekerjaan yang sangat berat dan sangat melelahkan. Butuh stamina fisik dan kesabaran yang tinggi. Saya tidak yakin kita akan sanggup memikul pekerjaan kalaupun sesaat kita berganti peran dengan mereka. Jadi karenanya, berikan sedikit apresiasi kita kepada para petani. Hargailah jerih payah mereka.
Lantas masihkah kita menyisakan makanan kita...? Masihkah kita membiarkan makanan berserak tersisa, sembari tergelak memenuhi kerongkongan dan lambung kita sekenyang-kenyangnya...? Tangan kita terjulur kesana kemari mencicipi setiap hidangan, lantas kemudian dengan kepongahan kita membiarkannya bersisa dan terbuang...? Masihkah kita menganggap sepele hal yang hanya perkara "menghabiskan makanan"...?
Semoga kita masih mempunyai nurani...
Semboyan tentara bagian logistik adalah, logistik memang tidak bisa memenangkan perang. Tapi tanpa logistik, perang tidak akan menang. Atau ungkapan lain dari seorang teman yang biasa berkutat dalam urusan konsumsi pada acara-acara perhelatan mengatakan, konsumsi adalah penyempurna bagi suatu acara. Kalau ada bagian tertentu acara yang tidak sempurna, sedangkan masalah konsumsi beres & memuaskan, maka acara tersebut masih bisa dikategorikan sukses. Atau sebaliknya, kalau seluruh rangkaian acara lain sukses, sedangkan urusan konsumsi mengecewakan, maka acara tersebut tidak bisa dikatakan sukses...







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




