Kamis, 05 November 2009 - 16:40:18 WIB

Revolusi Pendidikan, Perlukah?
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: IdeA - Dibaca: 142 kali


Mencermati perkembangan dari dunia pendidikan hari ini, kita semua mesti mewaspadai keterpurukan yang ada agar apa yang dicanangkan di era reformasi, untuk mempersiapkan generasi tangguh ke depan, betul-betul dapat terwujud. Kita mengakui secara jujur bahwa mereformasi sesuatu yang sudah begitu jauh bergesar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tuntutan terhadap perubahan yang tersirat dan tersurat dalam makna reformasi juga masih perlu dipertajam ke arah dunia pendidikan. Jangan-jangan perubahan ini belum menyentuh inti permasalahan dunia pendidikan, tapi hanya menyentuh tepiannya saja.

Pendidikan adalah jembatan pertama yang mengantarkan anak bangsa untuk menjadi pemimpin. Belum kita temukan seorang pemimpin di negeri ini yang tidak pernah mengecap bangku sekolah. Beberapa pemimpin yang terindikasi menggunakan ijazah palsu pun menunjukkan begitu pentingnya sebuah pendidikan, sehingga mereka berani memalsukan ijazah untuk menjadi pemimpin. Kalau kita ingin mengubah paradigma ke depan, maka pendidikan menjadi sentral dan mendasar.

Bangsa ini akan sulit membenahi dirinya dengan pendidikan yang amburadul. Kalaupun boleh dibuat patron, pendidikan bukan segala-galanya, tapi segala-galanya dimulai dari pendidikan. Maka sangat wajar jika dibutuhkan perubahan yang sangat mendasar pada dunia pendidikan. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara melakukan perubahan itu sehingga pendidikan mampu menjawab kebutuhan bangsa saat ini.


Revolusi Pendidikan
Revolusi tidak selalu bermakna berdarah atau benturan fisik. Revolusi atau perubahan perlu dilakukan pada setiap pribadi para pelaku pendidikan. Setiap pribadi tersebut perlu melakukan perenungan dan muhasabah (evaluasi diri), dalam upaya mencermati masalah pendidikan selama ini. Serta seiring dengan momen Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, kita bersama-sama bangkit untuk membenahi permasalahan pendidikan yang ada.

Betapa beratnya membenahi pendidikan ini dapat kita saksikan salah satunya dari proses ujian akhir nasional (UAN). Kalau diakui secara jujur, mungkin hampir sebagian besar siswa yang mengikuti UAN saat ini mendapatkan bantuan jawaban soal. Kita tentu bisa menyimpulkan, apakah hal ini menunjukkan indikasi kebangkitan atau keterpurukan.
Kondisi ini membuat seluruh komponen bangsa yang masih memiliki nurani terenyuh, melihat fenomena bocoran jawaban soal, tim sukses, serta berbagai rekayasa lainnya. Hal ini bisa terlihat dengan pengawalan ketat soal ujian oleh polisi bersenjata. Agaknya tidak ada beda dengan teroris atau penjahat.

Namun tentu tidak bisa dijatuhkan fonis bahwa semua praktisi pendidikan tidak memiliki idealisme. Kalau idealisme ini dikaitkan dengan tingkat kesejahteraan para pelaku pendidikan, maka kesejahteraan mesti juga diperhatikan sambil memperkokoh komitmen idealisme berlandaskan agama.

Inidikasi ketidak jujuran ini dikuatkan oleh fakta-fakta lapangan. Sekian tahun anak dididik di sekolah, diajarkan untuk jujur, tidak boleh mencontek, mencuri, dan sebagainya, tapi fakta ini dibenturkan dengan ujian akhir nasional yang lalu. Oknum guru berkomplot untuk membuat jawaban soal ujian. Memang kita tidak bisa menuduh sembarangan, karena tidak semua guru berkomplot. Tapi gara-gara satu-dua orang, citra guru keseluruhan ternoda. Kebenaran terjadinya komplotan oknum guru ini bisa ditanyakan dengan siswa SMU atau SMP yang ikut UAN tahun ini.

Kita menyadari bahwa pendidikan adalah miniatur kehidupan. Siswa yang dididik di sekolah pada dasarnya disiapkan untuk menghadapi kehidupan, dimana ada kesuksesan dan ada kegagalan. Anak didik disiapkan mentalnya untuk kuat menghadapi kegagalan, tidak naik kelas ataupun tidak lulus. Kalau dalam proses pendidikan siswa diajarkan harus terus berhasil, walau dengan jalan pintas, akan sangat tidak baik untuk kehidupannya.

Islam yang turun 14 abad lalu telah mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ini akan ada keberhasilan dan kegagalan. Rasulullah saw, seorang yang mulia di sisi Allah, juga pernah mengalami kegagalan. Pada saat Perang Uhud dan Perang Hunain misalnya, pasukan muslim mengalami kekalahan karena ketidakpatuhan sebahagian pasukan. Jadi tidak ada kata takut gagal, karena kegagalan merupakan satu langkah menuju keberhasilan.

Maka Kerja oknum yang memberikan jalan pintas itu meracuni pelajar. Pada akhirnya, mereka akan menjadi manusia yang tidak pernah siap menghadapi kegagalan. Mereka tidak akan siap menjadi seorang 'petarung', namun hanya menjadi anak manja. Dan mereka akan menempuh berbagai cara agar selalu sukses, termasuk mencari jalan pintas. Dengan suap saat mengikuti tes, nepotisme dan sebagainya. KKN yang marak pada hari ini juga merupakan kontribusi, walau mungkin tidak 100%, dari dunia pendidikan.

Jadi sasaran revolusi pendidikan ini adalah merubah mental dan moral para pelaksana pendidikan. Guru, kepala sekolah, kasubdin, kepala dinas sampai ke atasnya, termasuk masyarakat. Saat melihat sekolah yang kurang bermutu, misalnya meluluskan siswanya dengan rekayasa, masyarakat memboikot sekolah tersebut dan tidak memasukkan anak ke sana. Masyarakat harus jeli, karena sekali lagi, masalah pendidikan adalah masalah yang prinsip berkaitan dengan investasi dunia dan akhirat. Target jangka pendek pendidikan adalah anak mendapatkan ilmu dan gelar sehingga dia bisa bekerja untuk kehidupannya. Dan tujuan jangka panjangnya adalah anak bisa beramal untuk persiapan akhiratnya. Wallahu 'alam bishshawab. (Ridwan Yakub/Praktisi Pendidikan)


0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







DSIM Aktual (43)
From Chairman (13)
Gugah (41)
Hikmah (39)
IdeA (26)
Keajaiban Sedekah (27)
Mozaik (45)
Tahukah Anda (27)






Akikah Mulia (1)
Kemanusiaan (1)
Kurban 1430 H (5)
LKC (1)
LMPI (4)
MU (3)
Ramadhan (1)
Tabungan Kurban (1)





• 05 Maret 2010
Peluncuran Dana Wirausaha Muda DSIM

• 25 Februari 2010
Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tangga Buntung

• 24 Februari 2010
Aksi Cepat Tanggap (ACT) Karya Jaya

• 24 Januari 2010
Supercamp LMPI 2010

• 14 Januari 2010
Refleksi Milad ke-8 DSIM












Anda pengunjung ke




Add DSIM as friend

Profil Facebook Dsim Palembang



Pagerank Info

PageRank

PagerankAlexa.Com

PagerankAlexa.Com






Lingkar Sinergi











e-zakat









Darimana Anda mengenal DSIM?

Buletin Jumat
Newsletter
Spanduk
Facebook
Lain-lain
Teman

Hasil Poling