Kamis, 05 November 2009 - 16:42:45 WIB
Mata yang Tidak Menangis di Hari Kiamat
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Tahukah Anda
- Dibaca: 185 kali
Sebagai muslim, tentu saja kita sangat paham dan yakin bahwa dunia dan kehidupan di dalamnya akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul berada pada pengadilan Allah SWT. Al-Quran telah menceritakan berkali-kali tentang kiamat. Seperti dalam surat Al-Ghasiyah ayat 1-16. Dalam surat itu digambarkan tidak semua wajah ketakutan, ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria karena perilakunya semasa di dunia.
Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di hari kiamat. Rasulullah bersabda: "Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata". Pertama mata yang menangis karena takut mata Allah. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga adalah mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah. Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang ceria atau menangis di hari kiamat?
Ada sebuah kisah, pada suatu hari Isham menghadiri majelis seorang 'abid bernama Hatim al-Asham dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelar Hatim), bagaimana cara tuan sholat?". Berkata Hatim, "Bagaimana wudhu batin itu?", berkata Hatim, "Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air". Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota tubuh dengan tujuh perkara:
- Bertobat
- Menyesali akan dosa yang telah dilakukan
- Tidak tergila-gila dengan dunia
- Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia
- Meninggalkan sifat bermegah-megahan
- Meninggalkan sifat khianat dan menipu
- Meninggalkan sifat dengki
Seterusnya Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid, ku kemasi semua anggota tubuhku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada dihadapanku, surga di sebelah kananku dan neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan titian Shiratul Mustaqim dan aku menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhir bagiku (karena aku merasa akan mati setelah sholat ini). Kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam sholat, aku pahami maknanya. Kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhu' (merasa hina di hadapan Allah). Aku bertasyahud dengan penih pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku sholat selama 30 tahun."
Ketika Isham mendengar, menangislah ia sekuat-kuatnya karena membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim. Rasulullah telah bersabda,"tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut pada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya."
Allah SWT. berfirman yang artinya, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat tunduk (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) pada hari ini kamu dibalas menurut apa yang telah kamu kerjakan (QS. Al-Jatsiyah: 28) "
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah seperti Hatim yang mengabdikan, menyerahkan hidupnya hanya untuk Allah? Menangis karena takut kepada Allah, sholat dengan sepenuh hati atau baru mengingat Allah jika sedang dilanda kesusahan?
Belum ada kata terlambat untuk kembali meluruskan niat kita, bertobat dan mengharapkan ampunan pada Allah. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang dicintai dan diridhoi-Nya. Amin.
Wallahu'alam bish showab.
0 Komentar :
Isi Komentar :