Selasa, 17 November 2009 - 16:48:07 WIB
Nurfanida Librianty : Relawan Kemanusiaan Gempa Sumbar
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 94 kali
Sabtu malam, 10 Oktober yang lalu Dompet Sosial Insan Mulia (DSIM) memberangkatkan kru gelombang dua ke Padang, salah seorang dokter yang ikut adalah dr. Nurfanida. Dokter yang berdinas di puskesmas Kota Prabumulih Timur ini, mulanya ingin ikut terjun ke lokasi bencana. Namun karena yang diberangkatkan semuanya laki-laki, akhirnya ia menitipkan pesan melalui rekannya yang juga relawan DSIM, jika masih ada kemungkinan membutuhkan relawan kemanusiaan maka ia siap diberangkatkan. Makanya ketika ia mendapat tawaran melalui Short Messaging Service dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) DSIM, ia menyambut dengan antusias.
Tahun 2005, saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Nida (sapaannya) juga ikut rombongan bantuan kemanusiaan di lokasi banjir Kabupaten Ogan Ilir. Bahkan saat tsunami melanda Aceh, sebenarnya ia sudah siap jadi relawan hanya saja urung diberangkatkan.
Dalam kondisi bencana, masih darurat, dengan fasilitas yang minim, makanan juga susah itulah bayangan lokasi yang akan ia temui nanti. Padahal ketika sampai disana suasana sudah mulai terkendali karena memasuki hari ke-11. Bersama dr. Trimaulina dan rekan-rekan LKC dari daerah lain, Nida ditempatkan di Rumah Sakit Darurat LKC Dompet Dhuafa.
Walaupun harus menjaga posko medis ketika mendapat giliran jaga, Nida cukup beruntung dibandingkan kru lain yang ikut karena sempat mengunjungi lokasi gempa paling parah. "Prinsipnya waktu itu, ada tenaga medis yang jagain posko, ada yang mobile, diarahkan untuk mobile karena lokasi Rumah Sakit Darurat itu kurang dekat ke arah (lokasi) bencana jadi emang tempat transfer pasien," katanya.
Senin, 12 Oktober pukul 07.30 ia berangkat bersama rombongan LKC dari Padang ke Rumah Sakit Darurat di Kecamatan Lubuk Alung. Pukul 12.34 berangkat ke Kecamatan V Koto Kampung Dalam, tiba disana pukul 15.00 kemudian mendirikan posko medis hingga pukul 17.30.
Selasa, 13 Oktober pukul 09.30 melayani warga yang berobat di posko medis Korong Limo Hindu, Kecamatan Padang Sago. Pukul 15.00 bertugas kembali di Rumah Sakit Darurat. Rabu pagi, 14 Oktober bersama kru LKC berangkat ke Tandikek, selanjutnya meninjau lokasi longsor di Padang Alai. Suasana sudah mulai gerimis sore itu, Nida melihat dengan miris ketika ada anak yang sedang dibujuk ibunya, menangis berebut sebungkus mi instan dengan saudaranya. Rumah mereka termasuk di salah satu desa dari empat desa yang tertimbun tanah longsoran.
Akibat longsoran itu juga memutuskan aliran sungai ke dusun warga,ia menelusuri daerah yang sudah jadi rata seperti lapangan. "Jika Allah menghendaki, ya hancur semuanya, termasuk masjid, padahal rumah pas disebelahnya, nggak apa-apa," ujarnya.
Ada pelajaran berharga yang diperolehnya disini, "Yang kulihat sih, orang Padang itu sabar-sabar, tabah-tabah, belajar banyak kesabaran dan ketabahan dari mereka. Kan, ada seorang bapak yang seluruh keluarganya habis, rumahnya habis dan dia beruntung karena pada saat itu lagi di pasar Padang Pariaman dan dia berusaha tabah, jadi benar bahwa orang Padang itu religius, bagi mereka gempa sudah biasa, tapi emang ini yang paling dahsyat, dan yang bikin aku salut itu mereka masih bisa tersenyum, tetep optimis tentunya," ungkap Nida.







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




