Rabu, 12 Agustus 2009 - 14:16:58 WIB
Muslim di Australia
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Tahukah Anda
- Dibaca: 429 kali
Sejarah Masuknya Islam/Muslim ke Australia
Sejarah masuknya Islam ke Australia dimulai dari interaksi pertama kali
nelayan yang berasal dari Sulawesi Selatan (Indonesia) dengan penduduk
asli di bagian Utara Australia (Aborigin) pada sekitar tahun 1750.
Tidak banyak jumlah Muslim yang tinggal di Australia saat itu, sampai
pada sekitar tahun 1860 serombongan penggembala onta berasal dari
Afganisthan datang ke Australia menambah jumlah Muslim yang tinggal di
Australia.
Pada abad ke 19 Australia mempunyai banyak daerah/tanah yang kaya akan
sumber daya alam yang belum tereksploitasi.Sebagian besar dari tanah
tersebut berupa padang pasir dengan temperatur yang sangat tinggi
dengan sedikit sumber mata air. Onta merupakan binatang ideal untuk
kondisi tersebut, maka pada tahun 1840 seorang bernama Horrick
memasukkan (import) pertama kali onta ke Australia, dia ingin
membandingkan antara onta dan kuda sebagai hewan pengangkut barang di
padang pasir, tetapi missi ini gagal. Kelompok onta selanjutnya datang
pada tahun 1860 sebanyak 24 onta. Dengan mencoba mempergunakan onta
sebagai hewan pengangkut, Australia membutuhkan orang-orang yang ahli
dalam mengendarai dan mengoperasikan onta, maka didatangkanlah untuk
pertama kali orang-orang Afghanistan untuk mengoperasikan 24 onta
tersebut, dan tidak lama setelah itu berdatangan lebih banyak Muslim
Afghanisthan ke Australia. Sekitar 10.000 sampai 12.000 onta
didatangkan ke Australia dalam kurun waktu antara tahun 1860 sampai
1907.
Sekitar 3000 orang Muslim berasal dari Afghanistan bekerja sebagai
pengangkut barang-barang, air, serta makanan dengan mempergunakan onta
di daerah-daerah yang sulit. (A. Saeed, Islam in Australia, Allen &
Unwin, 2003). Para penggembala onta dari Afghanistan ini menemukan
tempat yang hampir sama kondisinya seperti di daerah asal mereka di
Australia tengah, mereka mengendarai ontanya dan berjalan melintasi
padang pasir sekitar 600 km untuk mengangkut barang-barang kebutuhan
utama dan penting dari Oodnadatta menuju Alice Springs (Australia
Tengah). “Kontribusi mereka dalam membuka areal serta jalur umum untuk
masyarakat luas di daerah-daerah Australia sangat besar dan penting.
Tulang punggung perekonomian tradisional Australia saat itu yaitu
agriculture dan pertambangan sangat membutuhkan onta sebagai alat
transportasi beserta penggembalanya” (Tin Mosques and Ghantowns –
Christine Stevens 1989).
Dengan berakhirnya era transportasi industri mempergunakan onta pada
sekitar tahun 1920, serta peraturan yang lebih ketat dari badan
Imigrasi Australia berkenaan dengan sedikitnya populasi warga kulit
putih Australia, maka jumlah Muslim Afghanistan yang dating ke
Australia menjadi berkurang. (B. Cleland, The Muslims in Australia: A
Brief History, Islamic Council of Victoria, 2002).
Pada sekitar tahun 1960, disebabkan peraturan yang lebih longgar dari
badan Imigrasi Australia berkenaan dengan migrasi bangsa non-Eropa ke
Australia, jumlah Muslim yang datang ke Australia menjadi bertambah.
Pada sekitar tahun 1960 dan sekitar tahun 1970 dalam jumlah yang cukup
besar terjadi migrasi Muslim dari Lebanon dan Turki ke Australia,
dimana jumlah Muslim terbesar di Australia saat ini berasal dari ke dua
Negara tersebut. Jumlah Muslim terbesar yang tinggal di Australia saat
ini berasal dari bangsa Arab, dibandingkan dengan bangsa Arab lainnya
Muslim yang berasal dari Lebanon mempunyai jumlah terbesar dan sejarah
migrasi yang lebih panjang/lama. Migrasi pertama bangsa Libanon ke
Australia terjadi pada sekitar akhir tahun 1880-an. Gelombang kedua
migrasi terjadi antara tahun 1947 sampai dengan 1975, terutama setelah
terjadi perang antara bangsa Arab dan Israel pada tahun 1967. Gelombang
ke tiga terjadi pada tahun 1976 setelah terjadi perang sipil di
Lebanon. Bangsa Arab lain yang mempunyai populasi terbanyak di
Australia adalah dari Mesir. Seperti halnya bangsa Lebanon, migrasi
bangsa Mesir ke Australia terbesar terjadi setelah perang dunia II,
migrasi ini terjadi dalam dua gelombang yaitu antara tahun 1947 sampai
dengan 1971, dan gelombang ke dua terjadi pada sekitar akhir 1980-an.
(A. Saeed, Islam in Australia, Allen & Unwin, 2003).
Muslim di Australia saat ini
Berdasarkan sensus dari Australian Bureau of Statistics (ABS) pada
tahun 2001, jumlah Muslim di Australia sebesar 281.578 orang, atau 1,5
% dari populasi jumlah penduduk Australia. Sedangkan menurut estimasi
dari salah satu lembaga Islam di New South Wales (NSW) mencapai 300.000
orang. Sensus juga menunjukkan bahwa Muslim di Australia berasal dari
berbagai Negara, dengan hanya 20,8 % berasal dari Lebanon dan 14.5 %
berasal dari Turki, sedangkan 64.7 % berasal dari sekitar 9 negara
(Indonesia, Afghanistan, Bosnia, dsb). Sensus tersebut juga menunjukkan
bahwa Muslim Australia mempunyai pendidikan yang cukup baik
dibandingkan dengan penduduk Australia secara keseluruhan, 21,7 % dari
Muslim Australia yang berusia di atas 15 tahun mempunyai gelar sarjana
(bachelor degree) atau lebih tinggi, prosentase ini lebih tinggi
dibandingkan dengan 12,4 % dari penduduk Australia secara keseluruhan.
Kesimpulan penting dari hasil statistik ini adalah bahwa anggapan
negatif tentang mayoritas Muslim Australia tidak berpendidikan terutama
yang berasal dari bangsa Arab adalah tidak berdasar.
Aktifitas Ibadah
Dalam melakukan aktifitas ibadah Muslim di Australia mempunyai lebih
dari 85 Masjid dan sekitar 50 musolah (tempat sholat), disamping itu di
beberapa daerah yang jauh dari Masjid beberapa Muslim berinisiatif
untuk menyewa gedung (misalnya gedung pusat kegiatan komunitas) untuk
dijadikan tempat sholat jum’at. Untuk membangun sebuah Mesjid
memerlukan prosedur tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang
harus dipenuhi syarat-syaratnya sebagaimana membangun gedung-gedung
untuk kepentingan umum lainnya.
Secara individual biasanya Muslim mempunyai masalah dalam melakukan
aktifitas ibadah sholat pada saat hari kerja, yang paling banyak
mengalami masalah adalah pada saat pelaksanaan shalat Jum’at. Apabila
menghadapi masalah sulitnya melaksanakan sholat Jum’at, muslim yang
taat memilih keluar dari tempat kerja atau mengorganisasi beberapa
muslim yang berdekatan tempat kerjanya untuk melaksanakan sholat
Jum’at, sedangkan muslim yang kurang taat melaksanakan ibadahnya
memilih meninggalkan sholat Jum’at. Kegiatan keagamaan di Australia
cukup semarak, hal ini bias dilihat dari banyaknya majelis taklim atau
kelompok-kelompok pengajian yang ada, bahkan beberapa gerakan Islam
cukup aktif terlihat melakukan berbagai aktifitas.
Kondisi Muslim Australia Pasca Bom London 7 Juli 2005
Tidak lama setelah terjadi peristiwa meledaknya bom di London 7 Juli
2005, pemerintahan Negara Barat segera melakukan kampanye terus menerus
untuk memberlakukan undang-undang khusus bagi umat Islam yang tinggal
di Negara Barat. Mereka mencoba membentuk opini menyesatkan kepada
masyarakat bahwa undang-undang baru tersebut dimaksudkan untuk
melindungi dan memerangi bahaya serangan terorisme di Negara mereka.
Tetapi tidak bisa dielakkan, agenda tersembunyi dari kampanye tersebut
yaitu membidik serta melemahkan Islam dan Muslim di Negara Barat segera
terlihat nyata.
Strategi dan agenda tersembunyi yang ditunjukkan oleh Pemerintahan
Negara Barat mempunyai banyak kesamaan. Propaganda yang dimulai dengan
alasan yang dicari-cari untuk memerangi terorisme, segera diperluas
untuk memerangi apa yang mereka sebut dengan pendapat/ide radikal dan
ekstrim, strategi ini ditargetkan untuk memecah belah Muslim dengan
memberi predikat muslim moderat dan muslim radikal/ekstrim.
Di Australia target juga diarahkan ke sekolah-sekolah muslim, dimana
pemerintah akan meninjau kembali kurikulum yang diajarkan di
sekolah-sekolah tersebut. Rencana ini segera mendapat reaksi keras dari
sekolah-sekolah muslim, karena kurikulum yang diajarkan saat ini tidak
beda jauh dengan apa yang diajarkan di sekolah-sekolah lainnya, bahkan
banyak murid dari sekolah-sekolah muslim tersebut yang mempunyai
prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah lainnya. Pemerintah
juga mengusulkan agar di sekolah-sekolah muslim lebih banyak diajarkan
nilai-nilai kemasyarakatan Australia, seperti toleransi, tanggung jawab
dan sebagainya, dimana nilai-nilai tersebut juga ada dalam Islam dan
sudah diajarkan di sekolah-sekolah muslim tersebut, lebih dari itu
sekolah-sekolah muslim dalam kurikulum belajar tidak pernah mengajarkan
tindakan terorisme. Sedangkan di masjid-masjid, pemerintah mengusulkan
agar para Imam masjid diberi pengarahan apa yang seharusnya boleh
mereka ceramahkan.
Tidak hanya sampai disitu, anggota parlemen dari partai Liberal Bronwyn
Bishop mengusulkan agar melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
umum, karena jilbab dianggap bertentangan dengan nilai-nilai
kemasyarakatan Australia tentang persamaan dan menyebabkan perpecahan
di sekolah-sekolah. Usulan ini juga mendapat tantangan keras baik dari
muslim maupun non muslim, sebagian besar yang menentang usulan itu
mengatakan bahwa tidak ada bukti pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
menyebabkan perpecahan dan persamaan hak. Kerry Cullen salah satu
kepala sekolah menengah umum tingkat atas (SMTA) di Sydney mengatakan
bahwa di sekolahnya hanya ada satu orang yang menggunakan jilbab merah
kecoklatan dimana warna tersebut sesuai dengan seragam sekolahnya, dan
itu bukan suatu masalah di lingkungan sekolahnya. Tidak pernah ada
laporan negatif dari guru-guru atau murid-murid yang disebabkan oleh
pemakaian jilbab. Kepala sekolah lainnya mengatakan bahwa kita tidak
pernah melihat adanya perpecahan yang disebabkan oleh pemakaian jilbab,
kami melihatnya sebagai sebuah keragaman budaya.
Hubungan Muslim dan Non Muslim serta harapan Muslim di Australia
Secara umum hubungan Muslim dan Non Muslim di Australia cukup baik,
terutama sebelum terjadi peristiwa 11 September. Tetapi setelah
peristiwa 11 September, bom bali, kemudian disusul bom London banyak
Muslim yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan baik oleh masyarakat
umum maupun oleh pemerintah dan media massa. Namun demikian hubungan
personal antara Muslim dan Non Muslim masih cukup baik, meskipun
terkadang sebutan teroris baik dalam nada bercanda maupun serius sering
dilontarkan Non Muslim kepada Muslim, sebutan atau label teroris ini
terkadang kurang menyenangkan bagi Muslim.
Secara umum harapan Muslim yang tinggal di Australia adalah bisa lebih
mudah menjalankan aktifitas ibadahnya terutama ibadah sholat Jum’at,
sedangkan harapan yang ditujukan kepada pemerintah Australia dan media
massa adalah tidak terus menerus menyudutkan Muslim dengan memberi
label-label yang tidak menyenangkan seperti ekstrimis, radikal, teroris
dan sebagainya. (Bambang Purba Kencana diambil dari Majalah Al-Hijrah) 






Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




