Selasa, 01 Desember 2009 - 16:11:15 WIB

Menjadi Taqwa melalui Ibadah Kurban
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: IdeA - Dibaca: 97 kali


Sebuah ayat yang menjadi pertanda disyariatkannya ibadah kurban adalah firman Allah swt, "Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr)." (QS Al Kautsar : 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah "Berkurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)". Tafsiran ini diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu 'Abbas, juga menjadi pendapat 'Atho', Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.

Penyembelihan kurban ketika hari raya Idul Adha disebut dengan al udh-hiyah, sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah tersebut. Sehingga makna al udh-hiyyah menurut istilah syar'i adalah hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah swt, dilaksanakan pada hari an nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat tertentu.

Dari definisi ini, maka yang tidak termasuk dalam al udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih bukan dalam rangka taqarrub pada Allah (seperti untuk dimakan, dijual, atau untuk menjamu tamu). Begitu pula yang tidak termasuk al udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih di luar hari tasyriq walaupun dalam rangka taqarrub pada Allah. Begitu pula yang tidak termasuk al udh-hiyyah adalah hewan untuk aqiqah dan al hadyu yang disembelih di Mekkah.

Pensyariatan ibadah kurban kepada muslim memiliki makna yang dalam, di antaranya :
Pertama : Bersyukur kepada Allah atas nikmat kehidupan yang diberikan.
Kedua : Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim as -khalilullah (kekasih Allah)- yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail as ketika hari Idul Adha).
Ketiga : Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismail as, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak.
Keempat : Ibadah kurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang semisal dengan hewan kurban.

Menyembelih kurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah kurban digandengkan dengan ibadah shalat.
Ketahuilah, yang ingin dicapai dari ibadah kurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, dan bukan hanya daging atau darahnya. Allah swt berfirman,

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (Qs. Al Hajj: 37)

Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah kurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan dialah yang pantas diagung-agungkan.

Yang Allah harapkan dari kurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (berharap pahala dari-Nya) dan niat yang shalih. Allah berfirman "ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya". Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berkurban yaitu ikhlas, bukan riya' atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. Wallahualam bishawab.


0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







DSIM Aktual (52)
From Chairman (14)
Gugah (57)
Hikmah (59)
IdeA (32)
Keajaiban Sedekah (29)
Mozaik (63)
Mulia Parenting (4)
Tahukah Anda (30)






ACT (2)
Akikah Mulia (3)
Kemanusiaan (1)
Kurban 1430 H (5)
LKC (4)
LMPI (5)
MU (5)
Ramadhan (1)
Tabungan Kurban (2)





• 17 Juni 2010
Aksos di Talang Andong, Banyuasin

• 15 Juni 2010
Poskes dan PMT di Tegal Binangun Plaju

• 15 Juni 2010
Penyerahan Infak siswa-siswi Nurul Fikri melalui DSIM

• 29 Mei 2010
Familly Gathering Siswa Kelas 6 SDIT Izzuddin

• 15 Mei 2010
Seminar & Bedah Buku "Saat Berharga Untuk Anak Kita"












Anda pengunjung ke




Add DSIM as friend

Profil Facebook Dsim Palembang



Pagerank Info

PageRank

PagerankAlexa.Com

PagerankAlexa.Com



Lingkar Sinergi











e-zakat









Darimana Anda mengenal DSIM?

Buletin Jumat
Newsletter
Spanduk
Facebook
Lain-lain
Teman

Hasil Poling