Rabu, 30 Desember 2009 - 13:26:13 WIB
Menjadi Muslim Yang Bervisi
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Mozaik
- Dibaca: 99 kali
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka." (An Nisa : 9)
Kalau kita sering membaca Al Quran maupun hadist, akan banyak menemukan dalil yang isinya menyuruh untuk mengantisipasi masa depan. Ini menunjukkan bahwa umat Islam diajak untuk serius memikirkan dan mempersiapkan masa depannya.
Ayat di atas mengilhami kita untuk berpikir visioner, menembus jauh ke depan melampaui ruang dan waktu. Tidak boleh terjebak hanya berpikir dan bekerja untuk hari ini, apalagi hanya untuk meratapi masa lalu. Sesekali boleh menengok masa lalu sebagai cermin utuk membaca diri. Tapi sesaat saja. Selebihnya adalah menatap masa depan. Adalah pandir jika bercermin sepanjang hari, sama pandirnya jika kita berpikir dan bekerja hanya untuk hari ini.
Jika tidak berpikir antisipatif, dengan sendirinya kita akan tergiring untuk berpikir dan bersikap pragmatis dan reaktif. Pekerjaan kita hanya respon dangkal atas permainan yang dilempar orang lain. Hanya menari-nari di atas genderang orang lain, kita hanya mengerjakan PR yang dibuatkan orang lain. Maka kita akan menjadi bulan-bulanan pihak lain. Kita harus menjadi subjek yang menentukan arah dan tujuan hidup kita sendiri, apalagi bagi dunia.
Berpikir ke depan akan menjadikan kita lebih kreatif dan inovatif. Tidak akan berhenti berusaha hanya gara-gara batu sandungan. Tak patah arang menghadapi pelbagai kesulitan hidup. Karena tujuan sudah jelas dan peta sudah di tangan, maka semua cara akan digunakan, semua upaya dikerahkan. Bahkan kita tak segan untuk berkorban. Jika sudah begini, insya Allah seribu satu jalan akan terbuka menuju pulau harapan.
Sebagai seorang muslim, kita harus memanfaatkan anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah swt. Yakni akal. Dengannya kita dapat berpikir. Akan menjadi apa sepuluh, dua puluh, atau seratus tahun yang akan datang. Bahkan harus bisa "melihat" bagaimana kehidupannya kelak di akhirat.
Rasulullah saw sendiri, dalam dakwahnya sudah bisa melihat masa depan Islam. Seabad, lima abad, empat belas abad, dua puluh abad ke depan. Bahkan hingga dunia berakhir. Beliau memimpikan Islam yang memimpin, menguasai, dan menjadikan dunia selalu dalam keadaan beruntung. Tidak ada kata kalah, menyerah, atau terpinggirkan apalagi seorang da'i mujahid. Rasulullah saw selalu mencontohkan kata-kata yang unggul, hebat, tak terkalahkan, tak tertandingi, mulia, dan tinggi. Semua ini dicontohkan agar umatnya mempunyai rasa percaya diri untuk berjuang.
Tanpa usaha yang berarti, semua kata-kata hebat itu hanya akan menjadi sejarah, dan kita sendiri akan terkubur bersamanya. Tak ada kebahagiaan yang lahir dari mimpi semata, ia harus diwujudkan dalam bentuk tindakan. Sesederhana apapun mimpi itu.
Wallahualam bishawab.







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




