Selasa, 12 Januari 2010 - 16:46:51 WIB
Ida Israwati Sihombing (28), Perawat
Ketika keputusan itu harus diambil
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah - Dibaca: 145 kali


Saya anak keempat dari lima bersaudara yang dibesarkan bukan dalam keluarga Islam, tapi sejak kecil saya tahu yang namanya shalat, puasa walau sebenarnya tidak terlalu mengerti. Tapi karena sejak kecil saya diasuh oleh orang Padang yang beragama Islam, maka saya pun mulai meniru-niru. Dari shalat yang hanya berdiri, rukuk, sujud, bahkan puasa yang sebenarnya jadi ajang diet bagi saya.

Usia remaja, Saya termasuk tipe remaja yang nyantai, baik dari segi pakaian maupun berteman. Sempat pula tergabung dalam kelompok band serta pelatihan fitness. Jadi bisa dibayangkan sendiri cara berpakaian dan bergaul saya. Semula saya begitu benci dengan Islam, entah karena apa. Mungkin karena saya beda agama. Apalagi saat kuliah, saya tidak suka dengan dosen agama.

Mulai tertarik dengan Islam, saat saya tahu istilah shalat tahajud dari teman kuliah."Supaya doa dikabulkan, maka harus shalat tahajud di sepertiga malam," itu kata salah satu teman saya. Mulailah rasa penasaran saya muncul. Ketika saya mencari tahu tentang tahajud di buku panduan shalat punya teman saya itu, ternyata di halaman sebelumnya ada penjelasan mengenai shalat istikharah yang dituliskan jika kita menghadapi pilihan. Dan seharusnya lembar berikutnya adalah tentang tahajud, tapi lembaran tersebut sobek. Sehingga saya berburu buku tentang tahajud.

Setelah membaca, saya berusaha mencoba, dengan niat agar nilai ujianku bagus. Setiap malam saya memasang weker untuk dibangunkan. Tidak ada yang saya lakukan selain mencuci tangan, muka, dan kaki. Setiap malam selalu saya lakukan hal tersebut, lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan merenung, dan tiba-tiba menangis, kemudian saya merasa tenang.

Dan pada salah satu malam, kembali saya melakukan hal yang sama, mencuci tangan, muka, kaki. Tapi kali ini aku berdoa, "Ya Allah, aku tidak kenal Engkau. Tapi izinkan aku untuk mengenal Engkau." Doa itu yang terucap, tapi saya membuat kesepakatan di hati, kalau dengan mengenal Allah tidak membuat diri saya lebih baik, maka saya akan kembali pada tuhan saya. Hampir setiap malam saya ucapkan kata-kata tersebut.

Tepat pada tanggal 23 oktober 2003, kalau tidak salah itu adalah hari ketiga pada bulan ramadhan, dengan pakaian baru, saya melangkahkan kaki ke rumah dosen agama. Yang sebenarnya hanya untuk bertanya tentang agama. Semula dosen heran atas kedatangan saya. Tapi setelah mengerti maksud kedatangan saya, ia menjelaskan, "Untuk menjadi seorang muslim, kita harus menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Dan bagi mereka yang mualaf, maka dia akan diberi keringanan dalam beribadah. Asal dia bersungguh-sungguh untuk terus belajar."

Entah kekuatan dari mana, kepala saya mengangguk dan menyatakan "Iya, saya akan belajar." Kemudian berkata "Pak, saya mau masuk Islam." Awalnya dia tidak percaya, hingga akhirnya ia dan keponakannya menuntun saya membaca dua kalimat syahadat. Setelah itu terucap, saya merasakan kelegaan yang amat luar biasa. Terasa beban di pundak terlepas.

Setiap keputusan ada konsekuensinya. Tahu bahwa kini saya menjadi seorang muslim, orangtua marah besar. Saya pun disidang dalam keluarga. Hingga akhirnya mereka menjauhi, tiga tahun mereka tidak menyapa.

Tapi ternyata Allah sangat mencintai hamba-Nya, selepas masa itu, tahun 2000 akhirnya mereka menerima saya kembali. Dan saya juga mendapat bonus. Saya menjadi anak angkat dari orang tua teman saya tadi. Di sini saya mendapat perlakuan sama dengan anaknya, saya sangat disayang oleh ibu angkat saya, apalagi sejak adik saya menikah.

Cinta Allah akan terus mengalir pada hamba-Nya, selagi hamba itu mencintai-Nya. Keputusan yang diambil enam tahun lalu, dengan segala konsekuensinya, akhirnya kini berbuah manis. Alhamdulillah saya mendapat banyak teman, mempunyai dua ibu dan dua ayah. Dan bersyukur yang tak terhingga akan nikmat Allah, pas musim haji barusan Allah memberi kesempatan naik haji gratis. Saya disertakan menjadi tim medis jamaah haji. Alhamdulillah... (Nurbaiti)




0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







DSIM Aktual (52)
From Chairman (14)
Gugah (57)
Hikmah (59)
IdeA (32)
Keajaiban Sedekah (29)
Mozaik (63)
Mulia Parenting (4)
Tahukah Anda (30)






ACT (2)
Akikah Mulia (3)
Kemanusiaan (1)
Kurban 1430 H (5)
LKC (4)
LMPI (5)
MU (5)
Ramadhan (1)
Tabungan Kurban (2)





• 17 Juni 2010
Aksos di Talang Andong, Banyuasin

• 15 Juni 2010
Poskes dan PMT di Tegal Binangun Plaju

• 15 Juni 2010
Penyerahan Infak siswa-siswi Nurul Fikri melalui DSIM

• 29 Mei 2010
Familly Gathering Siswa Kelas 6 SDIT Izzuddin

• 15 Mei 2010
Seminar & Bedah Buku "Saat Berharga Untuk Anak Kita"












Anda pengunjung ke




Add DSIM as friend

Profil Facebook Dsim Palembang



Pagerank Info

PageRank

PagerankAlexa.Com

PagerankAlexa.Com



Lingkar Sinergi











e-zakat









Darimana Anda mengenal DSIM?

Buletin Jumat
Newsletter
Spanduk
Facebook
Lain-lain
Teman

Hasil Poling