Rabu, 27 Januari 2010 - 15:24:13 WIB
SMART Ekselensia Indonesia
Akhirnya Roni, Ekselensia Pertama SMART EI Berangkat Ke Belgia
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 70 kali
Salah satu visi dan misi didirikannya sekolah SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI) Lembaga Pengembangan Insani-Dompet Dhuafa adalah terputusnya rantai kemiskinan dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya dan dalam kehidupan keluarga siswa SMART EI pada khususnya. Sekolah yang didirikan dengan model dan konsep menjaring perwakilan siswa Sekolah Dasar terbaik dari seluruh Indonesia ini, merupakan sekolah unggul bebas biaya setingkat SMP-SMA akselerasi dan berasrama yang didirikan sejak tahun 2004.
Kini 5 tahun sudah, siswa angkatan pertama SMART EI-LPI DD mengeyam proses pendidikan bebas biaya dan berkualitas di Sekolah SMART EI, sepanjang proses perjalanannya siswa SMART EI telah menorehkan berbagai prestasi baik akademis maupun non akademis. Alhamdulillah, 1 Agustus 2009 lalu mereka telah melaksanakan prosesi wisuda sebagai tanda kelulusannya, 96% siswa SMART EI di terima di Perguruan Tinggi terbaik Negeri ini yakni UI, ITB, UNPAD, UNAIR, USU, UNAND, dan UNHAS.
Selain itu, prestasi yang juga tak kalah membanggakan adalah prestasi tingkat nasional yakni 3 siswa SMART EI dari seluruh 16 kandidat nasional terjaring dari sekitar 700 siswa se-Indonesia berkompetisi skala dunia yang diselenggarakan oleh AFS atau Yayasan Bina Antar Budaya untuk mewakili Indonesia dalam pertukaran pelajar untuk misi kebudayaan bersama. Dikarenakan beberapa kondisi krisis yang menimpa negara-negara tujuan, maka siswa SMART EI yang diberangkatkan hanya satu orang saja.
Rasa syukur tak henti kami haturkan, atas karunia ini, anak kami yang bernama Muhammad Syukron Ramdhani (Roni) tengah mengejar cita dari Kuningan (Jawa Barat) tempat asalnya, 5 tahun di SMART EI, dan kini sedang berkompetisi berprestasi di Belgia. Bercita mengharumkan Negeri yang kini dirundung duka.
Inilah curahan hatinya:
(Harapan terpatri siswa tingkat akhir SMA SMART EKSELENSIA Indonesia LPI)
Sebuah Testimoni dari M. Syukron Ramdhani (Roni)
Tak pernah dapat terbayangkan sebelumnya Saya dapat bersekolah di sekolah yang sangat luar biasa ini, SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Sekolah yang didirikan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Republika. Saya berasal dari keluarga yang secara ekonomi bisa dikategorikan lemah, namun dengan segala keterbatasan itu Saya termotivasi untuk menjadi lebih baik, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Itu prinsip Saya.
Masuk ke SMART EI bukanlah merupakan hal yang mudah, Saya harus melalui beberapa tes yang melibatkan ribuan siswa cerdas dari seluruh Indonesia. Saya berasal dari Kota Kuningan, sebuah kota kecil yang pamornya seringkali tertutupi oleh megahnya kota Cirebon. Untuk dapat mengikuti seleksi SMART EI, Saya harus melakukan perjalanan jauh ke Jakarta karena Kuningan tidak terdapat cabang yang membuka pendaftaran sekolah ini. Tapi hal ini sama sekali tidak menjadi alasan untuk Saya tidak melanjutkan perjuangan Saya, dengan ditemani ibu Saya, Bismillah kita ke Jakarta.
Mengikuti seleksi di Jakarta bukanlah merupakan hal yang mudah, karena disini Saya harus bersaing dengan siswa-siswa yang berasal dari sekolah-sekolah ibukota yang mungkin mempunyai kualitas lebih baik daripada sekolah Saya yang merupakan sekolah paman-paman dan bibi-bibi Saya termasuk ibu Saya, bayangkan kelas Saya hanya terdiri dari 12 siswa, perjuangan untuk mengikuti seleksi ini merupakan perjuangan yang luar biasa, dimana Saya harus pergi dari Kuningan ke Jakarta beberapa kali, namun hasil kerja keras Saya terbayar lunas ketika akhirnya Saya diterima sebagai angkatan pertama SMART EI.
Lulus seleksi SMART EI bukan berarti perjuangan sudah selesai, Saya harus bersekolah selama 5 tahun jauh dari orang tua, ini merupakan perjuangan selanjutnya yang tidak kalah beratnya disamping Saya harus dapat beradaptasi dengan majemuknya budaya yang ada dilingkungan SMART EI karena siswa-siswanya berasal dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Saya harus dapat beradaptasi dengan tegasnya orang Medan dan lembutnya orang Yogyakarta. Perjuangan Saya bertambah berat dengan berita dari ibu Saya yang mengatakan bahwa orang tua Saya sudah berpisah tepat dihari keberangkatan Saya menuju asrama, tapi the show must go on, Saya tidak mau menyerah begitu saja, perjuangan Saya sebelumnya tidak ingin Saya sia-siakan begitu saja, Saya tetap hadapi tantangan ini.
Hari-hari di SMART EI tidak berlalu begitu saja, banyak sekali kenangan tak terlupakan yang Saya rasakan, hingga suatu hari Saya mengikuti sebuah program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh AFS/YBA.
Untuk mengikuti program tersebutpun tidak bisa begitu saja, sama seperti masuk SMART, Saya harus melewati proses seleksi yang kembali melibatkan banyak siswa cerdas, tapi kali ini dalam kategori SMA. Ada sekitar 5 tahapan seleksi yang Saya dan siswa-siswa yang lain harus jalani, perjuangan dimulai.
Seleksi tahap pertama (I) merupakan seleksi kemampuan akademik yang terdiri dari pengetahuan umum dan kemampuan bahasa Inggris. Dari sekitar 800 peserta seleksi akan diambil 200 siswa, alhamdulilah Saya dan beberapa siswa SMART EI lulus pada tahapan ini.
Tahap selanjutnya merupakan tes wawancara yang terdiri atas wawancara bahasa Inggris dan wawancara pribadi. Bagi Saya ini merupakan puncak dari seleksi dimana kita berhadapan langsung dengan pewawancara yang kebanyakan merupakan para senior yang sudah mengikuti program ini sebelumnya. Disini Saya dituntut untuk dapat mengendalikan suasana, karena Saya memang anak cenderung humoris, akhirnya Saya memilih untuk membawa suasana saat itu ke suasana yang lebih cair dibanding Saya bawa kesuasana yang cenderung lebih serius dengan bumbu-bumbu perdebat ilmiah seperti yang teman Saya lakukan. Alhamdulillah Saya dan beberapa teman Saya dari SMART EI LPI kembali lolos seleksi dan berhak untuk melanjutkan ke seleksi tahapan selanjutnya.
Pada seleksi tahap ke-3 ini merupakan tes dinamika kelompok yang menilai bagaimana siswa tersebut menghadapi suatu masalah didalam kelompok. Tantangan pada tahap ini adalah bagaimana kita dapat berbaur dan menyelesaikan suatu masalah bersama anggota kelompok yang belum begitu kenal karena setiap kelompok terdiri dari 4 orang yang berasal dari sekolah yang berbeda.
Tahap IV dan V merupakan seleksi berkas, untuk tahap IV, berkas siswa yang lulus seleksi tahap III bersaing ditingkat chapter,untuk ini Saya termasuk chapter bogor, sehingga Saya harus bersaing dengan siswa-siswa cerdas sekabupaten dan kota Bogor, plus dengan beberapa siswa dari depok. Selanjutnya adalah seleksi tahap V yang kembali merupakan seleksi berkas namun kali ini berkas siswa-siswa yang lolos dari seluruh indonesia untuk menjadi kandidat nasional. Untuk chapter Bogor ada 16 siswa yang lolos sampai tahap ini termasuk Saya dan 2 teman Saya dari SMART EI.
Selesai mengikuti berbagai tahapan seleksi ternyata belum bisa menjamin keberangkatan ke negara tujuan, krisis ekonomi global ternyata memberi dampak buruk kepada program ini. Beberapa donatur yang biasanya rutin memberikan suntikan dana untuk program ini menarik diri. Untuk informasi, setiap siswa yang berangkat setidaknya membutuhkan $7600 atau sekitar RP 77.000.000,00 (kurs Juli 2009). Hal ini menyebabkan sekitar 50% siswa yang telah lulus seleksi tidak jadi diberangkatkan karena alasan tersebut. Namun, saya masih optimis untuk dapat bisa berangkat, saya yakin Allah SWT akan memberikan jalan kemudahan, dan saya yakin masih akan ada banyak pihak yang berkenan membantu mewujudkan mimpi-mimpi anak bangsa yang penuh keterbatasan melalui dompet dhuafa. Mudah-mudahan saya dapat berangkat...
Perjuangan belum selesai, Saya dikejar-kejar dengan berbagai tugas yang harus Saya kerjakan untuk merampungkan persyaratan keberangkatan mulai dari membuat paspor, visa dan sebagainya yang merupakan hal baru untuk Saya. Namun kembali dengan dibantu pihak sekolah Saya dapat merampungkannya.
Satu kunci agar dapat menjadi seperti ini adalah doa. setiap sebelum Saya mengikuti proses seleksi Saya selalu menyempatkan diri untuk meminta doa kepada teman-teman Saya, Guru serta Keluarga dirumah. Setiap orang yang Saya kenal Saya mintai doa, karena siapa tahu dari sekian banyak orang yang Saya mintai doa, doanya dikabulkan oleh ALLAH SWT. Who knows? Untuk itu Saya sangat berterima kasih kepada berbagai pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung membantu Saya. Thanks all, thank u Allah...
Itulah curahan hati Roni, mungkin tak mudah bagi seorang siswa yang awalnya tak tahu setelah lulus Sekolah Dasar mau berlanjut bercita apa, namun Insya ALLAH, berkat upaya segenap pihak, solusi cita kini dibuat nyata, sebuah sekolah bernama SMART Ekselensia Indonesia, setidaknya telah menjadi bagian dari proses memberdaya seorang siswa berketerbatasan ekonomi namun berprestasi, untuk masa depan, keluarganya bahkan masyarakat dan Negara yang dicintainya. Ayah Roni yang hanya berkerja sebagai marbot masjid di daerah asalnya Kuningan Jawa Barat, tak meluluhkan citanya untuk melaju tinggi menjadi pemuda berprestasi bahkan di kancah dunia.
20 Agustus 2009 di Bumi Pengembangan Insani LPI-DD, menjadi momen tak terlupakan, Kepala Sekolah tercinta (ibu Latifah Farray) dan segenap keluarga besar SMART dan LPI melepas Roni berangkat menuju Belgia, ia bertekad mengharumkan negeri, menjadi pemuda yang mandiri dan berdaya guna. Dari Kuningan Jawa Barat ke Belgia kini telah nyata bagi sang Ekselensia Pertama, doa kami menyertai, semoga ALLAH menjagamu nak...Amin.
Artikel ditulis oleh: Diani PratiwiBacklink : http://lpi-dd.net/index.php?module=detailberita&id=53
1 Komentar :
x07 Maret 2010 - 11:22:42 WIBtulisan ini membuat saya semangat belajar
Isi Komentar :