Rabu, 03 Februari 2010 - 14:59:25 WIB
Marie (60); Penjual Kangkung
Hanya Allah Tempat Meminta
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 39 kali
Sudah hampir 20 tahun ini, saya menjadi pemetik dan penjual kangkung. Tak banyak, sehari bisa dapat sekitar 150 ikat. Tergantung dari keadaan kangkungnya, apakah sudah panjang atau belum. Kangkung-kangkung yang sudah diikat, dijual oleh istri ke pasar. Harga seikatnya Rp 300 - Rp 400. Alhamdulillah, seharinya bisa didapatkan hasil buat makan. Kalo kami sih sudah tidak ada keinginan apa-apalagi. Palingan cuma untuk bayar listrik per bulannya. Selain itu juga untuk jajan anak saya yang bungsu.
Tapi yang penting rumah tidak mengontrak. Bukan rumah sih, lebih layak disebut pondok. Karena dindingnya papan dan masih beratap daun (rumbia). Walau kondisi kami seperti ini, kami bersyukur. Shalat tetap terjaga. Setiap hari, selepas Ashar saya naik ke rumah-rumah, mengajar ngaji untuk anak-anak. Saya pakai kitab turutan, tidak mengeti kalo disuruh mengajar Iqra'. Dalam satu rumah ada satu hingga tiga anak yang diajar. Dan menjelang Isya biasanya baru selesai. Mengapa saya tidak kumpulkan saja mereka dalam satu tempat mengaji? Biar orangtua mereka bisa lihat langsung hasil mengajinya. Saya takut kalo nanti saya disalahkan. Bila sang anak tak pandai-pandai mengaji.
Anak saya tiga orang, dua orang perempuan sudah menikah. Sedang yang bungsu baru kelas empat SD. Seharusnya ia sudah duduk di kelas enam. Tapi memang anak saya ini agak bodoh. Dua kali ia tidak naik kelas. (Terdiam). Tapi, syukurlah setahun terakhir ini, ia sudah mau giat belajar. Apalagi setelah ia mendapat beasiswa dari DSIM. Ia jadi rajin. Kalo masalah jumlah, alhamdulillah cukup untuk biaya tambahan sekolahnya. Karena, SD sekarang kan sudah tidak bayar SPP atau BP3 lagi. Uang itu benar-benar dimanfaatkan untuknya sendiri. Pintar-pintar mengaturnya. Kalo bulan ini, uang beasiswanya untuk membeli buku dan alat tulis. Bulan depan bisa untuk mengganti kaos kakinya yang robek.
Saya datang ke Palembang akhir tahun tujuh puluhan. Maunya saat itu, mengambil sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama, Red) tapi karena tidak ada uang, akhirnya tidak jadi. Maklumlah, orang tua saya juga dulu serba kekurangan. Tidak punya pekerjaan.
Dulu, untuk sekolah saja, saya rela menjadi jongos. Menjadi pembantu di rumah orang. Karena, saat itu saya sadar orang tua saya miskin. Tidak mampu membiayai uang sekolah. Jadilah, waktu itu selama 6 tahun saya menjadi pembantu di rumah seorang kepala sekolah. Kepala sekolah itu sendiri. Saat kepala sekolahnya turun berkebun, maka saya yang menjaga rumah dan mengasuh anak-anaknya. Selepas SD, saya berkemauan keras untuk tetap sekolah. Dan akhirnya masuk ke Madrasah Tsanawiyah. Dan sekali lagi, demi niat saya itu, saya menawarkan menjadi pembantu lagi di rumah kepala sekolah MTs itu, selama tiga tahun.
Jadi kalo masalah kesulitan hidup, bolehlah saya katakan, tidak ada lagi yang terasa berat. Sedari kecil saya sudah mengalami kehidupan seperti ini. Saya hanya memohon kepada Allah, mudah-mudahan anak saya yang bungsu ini bisa mendapat pendidikan yang lebih baik. Lebih tinggi dari saya, agar hidupnya berhasil (menangis). Selepas MTs, sebenarnya saya ingin melanjutkan ke PGA, tapi ya itu tadi benar-benar mentok. Akhirnya, saya menjadi guru bantu di sekolah saya tersebut.
Ketika saya tahu ada kesempatan sekolah gratis di Jawa (SMART Ekselensia), saya tak sanggup berharap berlebihan. Kalo ditanya, apakah saya mau menyekolahkan anak di sana, jangan ditanya lagi, sepuluh kali saya mau! (sesengukan). Tapi saya sadar, anak saya tidak cerdas. Ia mau sekolah saya sudah bersyukur. Untuk masalah PR saja, saya sesekali bisa membantu. Mudah-mudahan, ia bisa mendapat beasiswa terus. Kalo bisa sampai tamat SMA. (KJ-04)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




