Rabu, 03 Februari 2010 - 15:00:35 WIB
Hikmah
Keputusan Memilih Gaya Hidup
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Hikmah
- Dibaca: 42 kali
Setiap kita punya cara sendiri menjalankan hidup. Cara kita menjalani hidup sangat bergantung pada motivasi, tekad, cita-cita dan sudut pandang kita tentang hidup itu sendiri.
Ada orang yang kaya, hidupnya penuh dengan gelimangan harta lalu berfoya-foya, bersenang-senang sekehendaknya, maka itu adalah pilihan hidupnya yang harus ia pertanggung jawabkan. Seperti Qorun dan pengikut-pengikutnya yang menganggap harta itu dapat mengekalkan hidup mereka. Ada juga orang yang kaya, tetapi ia dalam kendali hartanya sehingga terjerumus dalam kehancuran bersama hartanya. Seperti sahabat Rasulullah; Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan ra, karena menyakini hartanya titipan Allah swt dan alat memperbanyak kebaikan di dunia ini.
Tetapi ada pula yang justru meninggalkan harta, lau memilih hidup apa adanya. Mengambil bagiannya di dunia secukup kebutuhannya saja, padahal ia sanggup mengumpulkan yang jauh lebih banyak. Seperti Mush'ab bin Umair ra, duta Rasulullah saw kepada masyarakat Madinah untuk mengajarkan Islam.
Selagi muda, Mush'ab hidup dan dibesarkan dalam kesenangan dan kekayaan. Ia adalah pemuda Quraisy yang terkemuka, paling tampan, dan menjadi idola gadis-gadis Makkah. Gaya hidupnya manja dan mewah. Setelah keislamannya, Mush'ab meninggalkan gaya hidup mewah yang pernah dinikmatinya. Terhadap hal ini Rasulullah saw berkata, "Dahulu aku melihat Mush'ab tak ada yang menandinginya dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."
Mengambil keputusan seperti yang dijalani Mush'ab, tentu tidaklah mudah. Sebab, meskipun alur hidup kita sendiri yang menentukan, namun orang-orang yang ada di sekitar kita, keluarga dan kerabat perlu menjadi pertimbangan. Sebab boleh jadi mereka merasa teraniaya dengan keputusan yang diambil.
Setiap hari kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan, dari yang sederhana hingga yang bisa membuat kita merana. Untuk itu, marilah kita renungkan kembali kepingan-kepingan dari kehidupan ini. Mari kita coba memahami mengapa kita harus mengambil keputusan dan seperti apa kita harus melakukannya.
Berhati-hati
Hidup ini kita sendiri yang menentukan alurnya, mengikuti setting yang telah ditetapkan Allah tentunya. Sebab setelah keputusan, semua resiko dan tanggung jawab ada di atas pundak kita sendiri, bukan pada orang lain.
Segera Memutuskan
Keputusan ada kalanya harus disegerakan, namun ada kalanya pula kita harus mengambil jeda waktu untuk berpikir. Tergantung persoalan yang kita hadapi. Kesadaran yang muncul dalam diri kita yang akan memutar arah dari jalur kesesatan menjadi jalur keselamatan adalah kesempatan yang tak boleh diulur.
Gunakan Kesadaran Hati
Keputusan adalah hal kecil yang membuat pernbedaan besar. Namun. Keputusan yang kita ambil mesti dilakukan secara sadar. Kebanyakan orang gagal menapaki keputusannya adalah mereka yang memperturutkan kemauan dan egonya, dan mengesampingkan akal sehat dan nuraninya. (*)
Bertanya kepada Orang yang Lebih Tahu
Seorang muslim seharusnya meminta saran dan pendapat pada saudaranyaketika berhadapan dengan beberapa pilihan.
Berdoa dan Meminta Petunjuk dari Allah
Selain kepada sesame manusia, maka yang paling layak untuk kita mintai petunjuk adalah Allah swt. Sebab dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita, bahkan sebelum segalanya terjadi.







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




