Selasa, 02 Maret 2010 - 16:13:06 WIB
Chairul Umam dan M Faisal Juliansyah
Kisah Anak SMART Ekselensia asal Sumsel
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 107 kaliSmart Ekselensia Indonesia adalah sekolah percepatan yang terletak di kota Bogor. Di mana seluruh siswanya adalah anak laki-laki yang berprestasi dan tergolong sebagai kaum dhuafa. Alhamdulillah, kami berkesempatan merasakan pendidikan di sana. Smart ekselensia menerapkan kurikulum pendidikan selama lima tahun (jenjang SMP dan SMA) dengan dana operasional berasal dari zakat, infak dan shadaqah para muzaki.
Sebelumnya kami harus melewati seleksi ketat, yang seluruh pesertanya berasal dari anak-anak kelas 6 SD/MI seluruh Indonesia. Termasuk juga wilayah Sumatera Selatan di dalamnya dengan DSIM yang menjadi penyeleksinya.
Alhamdulillah dua tahun berturut-turut, dari Palembang berhasil mengirimkan empat orang siswa. Termasuk kami di dalamnya. Tahun 2006 terpilih Tarmuji dan Umam. Sedang di tahun 2007 terpilih kembali Ari dan Faisal. Sedang tahun 2008 dan 2009, tidak ada lagi teman yang menyusul.
Bukan karena teman-teman berprestasi dari Sumsel tidak ada. Tapi melainkan kebanyakan teman perempuan yang memenuhi syarat. Dari cerita mbak yang ada di LMPI, andaikan ada yang laki-laki, orang tuanya banyak belum mengikhlaskan anaknya untuk sekolah yang terbilang jauh dari mereka. Lima tahun bersekolah di sana tanpa boleh pulang. Kecuali ada hal-hal penting yang mengharuskan pulang. Atau menunggu waktu yang telah ditentukan. Karena kami baru diberikan izin liburan dalam satu tahun hanya tiga minggu saja.
Banyak kisah dan pengalaman yang menyertai kami di sini. Saya (Umam), sekarang sudah duduk di kelas 2 SMA jurusan IPA. Beberapa teman iseng memanggil saya dengan sebutan Ustadz Yusuf Mansyur Junior. Mungkin karena muka saya sekilas mirip Ustadz Yusuf.
Kegiatan di Smart EI yang pernah saya ikuti yaitu menjadi tim jurnalis di sana, berharap bisa belajar menuliskan berita yang saya dapat. Saya pikir akan diawali dengan training dan pelatihan menulis dulu. Eh, nggak tahunya langsung diberi tugas mencari bahan untuk ditulis. Jadi males deh karena saya kan di situ mau belajar dulu. Bukan langsung buat tulisan.
Terakhir ini, saya ikutan yang namanya tim KPK di Smart EI, yaitu Komplotan Penggerak Kedisiplinan. Saya tidak sendiri, total KPK ini ada empat puluh orang termasuk di dalamnya ada Tarmuji. Ini yang membuat kami harus disiplin dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Baik itu dalam hal kebersihan maupun bangun pagi. Hampir setiap hari, KPK dibangunkan terlebih dahulu oleh ustadz yang mengontrol kami, jam setengah 4 kami harus sudah bersiap-siap.
Jadi tim ini banyak senang plus sedihnya juga. Senangnya, seluruh angkatan kenal dengan kami. Tapi karena hal itu, kami juga dibenci karena banguni orang yang sedang tidur.--
Beda dengan kak Umam yang sibuk dengan KPK nya. Kalau saya (Faisal) lebih memilih menekuni trashic - permainan alat musik dari barang bekas. Di sini juga saya bertemu dengan kak Tarmuji, hanya kami beda tim saja. Saya sekarang kelas 1 SMA pra jurusan IPA.
Alhamdulillah dari trashic ini saya bisa menabung. Karena setiap diundang untuk membuat pertunjukan, kami dikasih fee. Selain menambah teman, kegiatan ini juga menambah uang saku. Selain trashic, saya juga ikutan pencak silat. Hobinya gerakan yang acrobatic, intinya melompat-lompat. Tapi pernah suatu hari, karena kurang hati-hati akhirnya lompatan saya tidak berhasil dan menyebabkan pelipis saya luka dan akhirnya harus dijahit. (Nurbaiti*)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




