Selasa, 02 Maret 2010 - 16:20:07 WIB
Asnan (39); penjaga malam
Yang Penting Ringan Tangan
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 43 kali
Walau bekerja sebagai penjaga malam, Saya bersyukur. Walaupun orang sering bertanya, 'Kapan saya tidurnya, kelihatannya kerja terus?' Saya hanya menanggapi biasa saja. Mau bagaimana lagi. Sekarang nyari gawean yang halal tu saro. Apalagi saat ini saya harus mencukupi kebutuhan anak istri, bayar kontrak rumah, dan yang lainnya. Karena itu, begitu ada tawaran jaga malam di sebuah bimbel dan sekitaran daerah veteran, pasar kuto langsung saya ambil.
Oleh bimbel ini, Saya dikontrak untuk menjaga kemanan anak-anak yang les, serta membersihkan bimbel. Yang kerjanya dari jam setengah delapan hingga jam enam. Berhubung anak-anak persiapan UN (Ujian Nasional), maka ada kelas tambahan pada jam 7 hingga jam 9.
Tapi pekerjaan ini tak menuntut saya untuk setiap waktu ada di sana. Kalau pekerjaan telah dilaksanakan, maka siang saya pulang sebentar untuk melihat anak istri. Waktu yang bisa dibilang sebentar, mungkin hanya 2-3 jam-an, saya bermain dengan anak. Maklum rindu dengan anak. Karena setiap malam saya harus jaga malam.
Waktu yang sedikit itulah saya gunakan semaksimal mungkin untuk menemani mereka, dan itu juga yang membuat anak-anak jadi lengket kalau saya sampai di rumah. Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Karena itu, apapun yang bisa membuat mereka pintar, saya akan berusaha memenuhinya.
Saya yang bisa dibilang 'nakal' waktu bujangan dulu, tak cukup mendapat pendidikan. Maklum sudah harus mencari kebutuhan sendiri dari kecil, alhamdulillah nian biso begawe. Berarti kalau anak-anak saya dididik dan dijaga, mereka akan lebih baik lagi dari saya. Oleh karena itu, saya bersemangat menyekolahkan mereka.
Saat ini, anak pertama, saya sekolahkan di madrasah. Bukan apo-apo, agama itu penting apolagi untuk anak-anak. Alhamdulillah, dia selalu masuk 10 besar, sekarang duduk di kelas 2. Sedang adiknya, Rendi sekarang kelas 0 (nol), TK. Besyukur nian, sudah pandai membaca.
Banyak penggalaman pahit dalam hidup saya dan tak patut diingat. Ketika hidayah itu datang satu yang terpikir. 'Untuk apa saya hidup, kalau tidak bisa memberi manfaat bagi orang lain ?'. Dari situ saya berusaha untuk berubah. Harus jadi lebih baik.
Ternyata benar, kalu sudah berniat yang baik, Tuhan akan membantu. Saya baru percaya setelah merasakannya. Berbagai kemudahan saya alami, dari mendapatkan kerja, yang penting kita ringan tangan saja, berniat hanya untuk membantu. Hingga akhirnya berkeluarga dan menjadi ayah untuk ketiga anak saya.
Saya percaya saja, bahwa Allah tidak akan lupa dengan janjinya. Kadang saya melihat buktinya langsung. Misalnya, pernah saya bertemu dengan orang tua yang mau makan, tapi dia tidak punya uang. Dengan uang yang pas-pasan saya belikan dia nasi seharga 7 ribu. Tapi sorenya, saya sudah mendapat ganti lebih dari itu melalui teman saya sebesar 50 ribu. Masih banyak pengalaman yang lainnya.
Saya merasakan sekali kemudahan itu. Biarlah saya dan istri harus bersusah-susah untuk anak-anak. Asal mereka nantinya jadi anak yang baik, dan tidak lupa dengan kami, orangtuanya. Saya percaya kata kyai, "Allah itu tidak tidur atau berpaling di kala hamba-Nya berdoa". Pokoknyo, banyak nian enjukan Tuhan. Ada saja jalan datangnya rizki itu. (Nurbaiti)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




