Jumat, 05 Maret 2010 - 15:21:29 WIB
Rebo (43), Korban Banjir
Saya Pasrahkan Saja dengan Allah
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 53 kaliAlhamdulillah saya bersyukur sekali, ketika ada berita tentang layanan pengobatan gratis dari DSIM ini. Maklum saya tak punya banyak biaya untuk membawa anak saya ke rumah sakit. Mau ke Puskesmas, jaraknya lumayan jauh sekitar 3 km dari rumah. Rabu pagi (24/2), saya mendapat kupon dan diminta juga untuk menyebarkan info ini dengan yang lain. Setelah dibagikan dengan dibantu tetangga juga, akhirnya kupon itu habis, dan saya bersiap-siap mengajak Muslim (8) anak saya untuk diperiksa.
Akhir-akhir ini, kondisi Muslim sering kejang-kejang. Saya khawatir dan berdoa mudah-mudahan lewat pengobatan hari ini, ada perbaikan untuknya. Tak lama saya menunggu giliran untuk diperiksa. Saat diperiksa, kata dokter-Muslim harus dibawa ke rumah sakit. Saya sudah menyangka sebelumnya, anak ini pasti harus dibawa ke rumah sakit, karena kondisinya yang terlihat lemah.
Beberapa bulan yang lalu, Muslim sempat dirawat di rumah sakit, karena kondisinya yang sering kejang-kejang. Hampir satu bulan Muslim di sana dan saya yang menjaga, sedang istri menjaga kelima anak yang lain. Sebab salah satu di antara mereka bernama Jamal memiliki penyakit lemah mental, dan sering kejang-kejang pula. Karena yang bekerja untuk mencari nafkah, saya dan anak yang pertama (Syahmin) maka pendapatan pun berkurang, sebab saya harus menjaga si Muslim. Tinggallah Syahmin yang harus bekerja sebagai pencuci mobil atau motor di daerah Karya Jaya.
Uang yang dia dapat tak cukup untuk makan sehari-hari, karena tergantung mobil atau motor yang dicuci pada hari itu. Sehari bisa dapat 15 atau 10 ribu, tapi pernah juga seharian bekerja hanya mendapat dua ribu atau lima ribu. Untuk itu saya memutuskan Muslim pulang ke rumah saja. Dan karena itu juga anak saya yang nomor dua (Mulyadi) pun akhirnya putus sekolah karena harus mencari makan, dengan mencuci kendaraan. Sebenarnya saya malu kalau harus bercerita begini, karena kelima anak saya tidak sekolah, sedang yang keenam masih balita.
Tahun ini juga tidak disangka-sangka, banjir yang biasa hanya menggenang di luar rumah, kini masuk ke dalam. Dua anak juga saya sakit. Padahal pertengahan tahun kemaren, saya dan istri juga sakit setelah Muslim dan Jamal masuk rumah sakit tiba di rumah. Saya yang sakitnya agak parah, harus muntah darah, dan uang simpanan pun akhirnya dikeluarkan untuk mengobati saya.
Saya hanya bisa berusaha untuk mencari nafkah dibantu kedua anak saya, karena kami bertiga pun masih sulit untuk mengadakan beras tiap bulannya. Beras raskin yang tiap bulannya hanya mendapat 15 kg, tidak bisa bertahan selama satu bulan. Karena kalau lapar, anak saya tidak jajan di luar, tapi makan nasi di rumah walaupun hanya nasi putih tanpa lauk. Kesehatan Muslim saya pasrahkan pada Allah, karena bingung mau diapakan lagi. (Nurbaiti)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




