Rabu, 17 Maret 2010 - 15:46:23 WIB
Siti Ariah (90), Pemulung
Aku Cuma Ingin Cari Makan
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 86 kali
Pagi-pagi sekali ia bangun dan menyiapkan kopi sebagai sarapan pagi. Hampir setiap hari begitu saja. Maklum mulai dari jam 6 pagi harus menyusuri jalan hingga tempat 'pekerjaan'nya. Yakni bak sampah berukuran 2x1 meter, 300 meter dari jembatan musi dua. Saban hari ia hampiri untuk mengais rezeki dari tumpukan sampah tersebut.
Bau tak sedap menyengak, tak mampu membuat orang betah berlama-lama di tempat itu. Tapi tidak dengan nenek satu ini, dia harus membolak balik sampah, mengeluarkan isi kantong asoi, mencari-cari apa yang menurut si nenek layak jual. Setelah itu ia pisahkan sesuai jenisnya dari yang berjenis kantong asoi, hingga cangkir plastik air mineral .
Bingung melihat kegiatan si nenek yang berbaju lusuh ini. Dan sepertinya dia juga tak terlalu menghiraukan setiap orang yang berlalu lalang di depannya yang melemparkan sampah begitu saja di depannya. Dia asyik sendiri dengan pekerjaannya. Hingga akhirnya serombongan anak SD datang, melihat kerjaan si nenek. Cukup lama mereka mengawasi nenek hingga akhirnya nenek itu bilang "Larilah, jangan jingoki aku. Aku dak gilo, belarilah" (sambil mengibaskan tangan ke anak-anak). Si nenek kembali menunduk dan bilang "Aku nih dak gilo, cuma nak nyari makan be," sambil memegang matanya, tampak nenek itu bersedih.
Warga sekitar banyak memanggilnya Wak Kijut, tanpa tahu dari mana asal mula panggilan tersebut. Dia diajak anaknya sekitar 20 tahun yang lalu. "Yo, anakku yang makso untuk ikut dio. Tapi setelah di sini, aku dak boleh tinggal serumah dengan dio. Akhirnya aku beli rumah dewek. Tapi jingoklah, rumah aku banjir."
Wak Kijut yang berteman dengan sampah ini, rela harus berjalan dan mengaduk-aduk sampah, demi bisa makan dari rezeki yang dia cari. Penghasilannya perhari cuma Rp 2.000 sampai Rp 3000 ribu. Selebihnya, dari pemberian orang-orang.
Saat ini, dia tinggal sendiri di rumah yang sebenarnya tak layak lagi untuk ditempati, karena posisinya yang rusak dan miring, bisa dibilang hampir roboh. Sedang anak laki satu-satunya, sudah meninggal hampir dua tahun yang lalu. Menantunya pun hanya bisa berkunjung namun tak bisa juga membantu banyak karena kondisi yang sama-sama membutuhkan.
Akhirnya Nek Kijut hanya bisa menghidupi dirinya dengan menjadi pemulung. "Dak ado gawe laen di rumah, lemak di luar. Di rumah banjir sedengkul". Ketika ditanya bagaimana dia tidur? Jawabnya dengan ketus, 'Yo, di matolah'. Tidak usah ditanya bagaimana Nek Kijut makan dengan penghasilan yang ia dapat? Dia menjawab dengan seringaian, "Aku punyo tempat langganan beli nasi. Di situ aku bisa beli nasi 2000 atau 1000. Kalo di Jembatan Musi 2, aku dak boleh beli nasi semak itu. Padahal kalo dio ngasih dikit be, aku terimo. Yang penting aku bayar, kan mereka jualan"
Kata penduduk sekitar, jam dua belasan dia duduk di bawah jembatan ini-kadang minum kopi saja, tapi kadang juga ada nasi yang menemani. Kalau hari dak ujan, maka dia melanjutkan lagi pencariannya. Entah Nek Kijut ini bisa makan sesuai waktunya atau tidak, pakaiannya yang kotor, tangan yang juga kotor terlihat jauh dari kesan sehat. Orangnya tak banyak bicara, dan seperti ketakutan kalau didekati oleh orang lain.
"Maklum be wong dak punyo cak aku ni, jarang diperhatike wong. Kecuali kalo aku suge. Cuma biso bepintak be dengan tuhan, aku dijago. Kalo meninggal, ado yang ngurus aku." ujarnya lirih. (Nurbaiti)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




