Selasa, 23 Maret 2010 - 16:47:12 WIB
Nurbaiti (46); Penjual Mainan
Belajar Jualan dari Mertua
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 53 kaliSudah hampir sepuluh tahun ini saya berjualan mainan di sini, (SD negeri di Pakjo, red). Dari usaha inilah saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Ditambah, siang harinya saya bantu-bantu di rumah orang. Lumayan, dari pekerjaan terakhir dapat tambahan upah sebesar Rp400 ribu di luar jualan.
Saat ini, tinggal bersama ketiga anak saya. Yang pertama sudah bekerja, sedang yang kedua kelas 3 SMA, dan si bungsu kelas 6 SD. Alhamdulillah anak pertama ini cukup meringankan beban saya, minimal dia tidak meminta uang lagi, gajinya pun kalau ada lebih akan ia kasih ke saya. Sedang dua anak yang lainnya, tidak terlalu pusing memikirkan uang SPP mereka, karena sudah gratis. Palingan, tinggal nyari uang untuk beli buku dan fotokopian. Juga persiapan ujian ini.
Saya tidak mau menyesali atas apa yang terjadi, karena orang tua saya mengajarkan untuk selalu berusaha mewujudkan sesuatu. Apalagi mertua saya dulu mampu menghidupi suami dan ketiga saudara lainnya hanya dengan berjualan jajanan dan mainan anak-anak. Dan alhamdulillah ketiga saudara suami berhasil, hanya suami saya saja yang tidak (tersenyum). Sejak suami saya meninggal, saya yang melanjutkan jualan ini, ditambah dengan mengambil upahan Bantu-bantu di rumah orang.
Awal jualan hanya ikut mertua. Dan sekarang sudah 10 tahun lebih saya berjualan seperti ini menghidupi keluarga. Jadi harus bersabar saja dan pintar-pintar jago duit. Maklum untuk usaha ini saya harus memutar uang baik dari keuntungan ataupun modal yang ada, kalo masih mau jualan. Jika perlu modal tambahan, maka koperasilah yang menjadi tempat saya meminjam. Tapi sedihnya, uang yang harus saya kembalikan pun tidak sesuai dengan yang saya pinjam, karena jumlahnya pasti lebih besar dari pinjaman.
Saya juga pernah dengar dari teman-teman, ada yang mau bantu kami tanpa bunga. Maka saya pun mencari tahu. Ternyata ada program BUM (Bina Usaha Mandiri, red) dari DSIM. Lalu, sejak dua tahun lalu saya dan sembilan teman lainnya mendapatkan bantuan usaha sebesar satu juta rupiah masing-masing per orang.
Saya cukup lega ketika bantuan itu datang. Itu tandanya saya tak perlu meminjam uang lagi dengan koperasi. Kalo di koperasi waktunya ditentuin, dan jumlah duit yang dibayar juga lebih. Nah, beda dengan DSIM, kami cuma diminta sebulan menyetor 105 ribu rupiah saja. Jadi 10 bulan bisa selesai. Uang lima ribu yang lebih pun, itu mereka tidak meminta, kata mereka itu hanya untuk tabungan, jadi terserah kami.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menambah barang jualan. Berhubung saya jualan maenan, saya harus selalu ke pasar. Harus sering-sering lihat maenan terbaru, biar cepet laku. Nah duit itulah yang ku gunoke. Selebihnya ditabung kalo-kalo masih ada guna.
Setelah itu, kami didatangi Pak Budi dari DSIM. Dia yang menagih uang kami. Setelah beberapa bulan menagih, akhirnya dia tidak datang lagi. Karena itu uang yang harusnya disimpan tiap bulannya, habis terpakai untuk kebutuhan keluarga. Karena lama tidak ditagih, akhirnya semangat yang ada lama-lama menurun. Tapi sekarang dari Dompet sosial kembali berkunjung untuk siap menagih uang modal yang telah kami pinjam.
Sistem yang digunakan pun tidak terlalu menyulitkan. Saya hanya diminta bayar 15 ribu rupiah tiap Jumatnya. Tapi, kalo pendapatan saya lebih dalam seminggu itu, saya akan menyetor 20 hingga 30 ribu rupiah. Kalau dihitung-hitung, uang yang harus saya kembalikan pada DSIM tinggal 400ribu lagi. Lumayanlah dicicil.
Harapan saya setelah uang pinjaman ini lunas, DSIM masih mau membantu dalam hal pemberian modal. Karena uang yang digunakan juga untuk menambah barang yang akan dijual, dan uang tersebut bisa diputar-putar untuk modal. Agar saya tidak meminjam kembali di koperasi, karena selain pusing dengan waktu yang diberikan, di lain pihak saya harus mencari tambahan dari bunga yang juga harus saya bayar. (Nurbaiti)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




