Senin, 26 April 2010 - 16:51:11 WIB
Purwanto (55); tukang ojek
Enteng Tangan, Bisa Dikenal Orang
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah - Dibaca: 88 kali


Panas terik membakar tubuh yang sudah legam, tak membuat payah dan lantas mengeluh. "Saya dari nganter wong dek. Sebentar lagi, mau mengantar ibu (istri) ke rumah sakit." ujarnya tersenyum.

Hampir setengah bulan ini Purwanto mengantar ibu pulang pergi rumah sakit. Karena adik iparnya sedang terbaring di rumah sakit juga, "Biasa, kalau lagi tidak ada orang yang bisa jaga."
  
Usianya sudah lewat lima puluh  tahun. Saat ini, ia mengaku sedang tidak punya pekerjaan tetap. Dulu sempat narik ojek di daerah 14 ilir. Tapi, karena tukang ojek sudah banyak di daerah saya, maka lambat laun saya lepas pekerjaan itu. "Padahal saya menghidupi lima anak dan istri dari kecil sampai besar, dari becak dan ngojek itulah. Dan juga bantu-bantu orang lain. Kalau ada yang bisa saya bantu maka akan saya bantu".
  
"Alhamdulillah, lima anak saya sudah selesai sekolah semua. Tiga orang sudah berkeluarga dan menjadi tanggungjawab suaminya untuk menghidupi keluarganya masing-masing", katanya. Sedangkan si bungsu menemani istri saya di rumah untuk jaga cucu, karena belum dapet pekerjaan. Yang membanggakan, anak ke empat Purwanto, Yenni Puspita Sari (25) sekarang kuliah S3 di salah satu perguruan tinggi di Malaysia Utara. "Alhamdulillah dia dapat beasiswa dari gubernur. Saya saja tidak pernah menyangka ia bisa kuliah sampai S3", bangganya.
  
Harapannya, Yenni bisa membantu kehidupan ekonomi keluarga. "Paling tidak, dia dapat tempat kerja terbaik untuknya. Kalau istri saya, Darmiah (48) tidak bekerja, hanya jaga cucu dan bantu anak mantu yang jualan gorengan. Kalo saya sekarang nih, sedang tidak punya pekerjaan tetap. Kalau ada yang minta antarkan, yo saya anter. Bagi mereka yang tahu saya tukang ojek, maka dia datang ke rumah minta anteri. Tapi kalau mau antrian atau nunggu di tempat ojek, saya sudah tidak kuat lagi. Apalagi lebih banyak ributnya kalau berebut penumpang. Jadi ngambil aman saja, lagi pula usia saya sudah tua juga", ungkapnya tersenyum.
  
Purwanto sendiri tidak bisa mengharapkan dapat uang setiap hari. Tapi kalau ada yang minta diantarkan olehnya pada hari itu, bisa dapat sekitar 20 sampai 40 ribu rupiah masuk ke kantongnya. Dari uang itulah yang digunakan istrinya untuk belanja. "Anak-anak juga suka ngasih uang, jadi bisa untuk disimpan, atau pun untuk bayar sewa tanah rumah, bayar lampu, dan air ledeng. Rumah yang kami tinggali sekitar 30 tahunan ini adalah rumah sendiri. Cuma tanahnya punya orang. Jadi kami bayar uang sewa tanahnya saja", jelasnya yang pernah ditunjuk menjadi ketua RT ini datar.
  
Dulu ia juga sempat narik becak, dan karena itulah orang banyak tahu. Setelah selesai jadi ketua RT, praktis ia menganggur. Cuma kalau ada acara, orang datang langsung ke rumah. Misal minta buatkan apa dan ikut bantu-bantu."Mungkin karena kita enteng tangan, jadi orang kenal dan minta bantuan kita. Dulu juga waktu pemilihan caleg, saya jugo ikut bantu. Temu dan salaman dengan gubernur pun, alhamdulillah sudah, itu waktu anak saya pulang ke Palembang selesai dari S1 dan dapat beasiswa S2 lagi di Malaysia. Alhamdulillah, banyak yang kenal dengan kito, walaupun bukan wong yang berado", ujarnya tertawa lebar.
  
Purwanto mengaku, pertama kali mengenal DSIM, dari Pak Barlie. Kata beliau, ada bantuan pinjaman modal untuk buka usaha. Purwanto pun langsung berniat mau bantu anak mantu besarkan usahanya. Bersama dua orang temannya, ia mengajukan pinjaman modal usaha."Alhamdulillah bantuan tuh cukup nian bantu kami, untuk menambah modal jualan gorengan depan lorong rumah.. Alhamdulillah, bisa pinjem di DSIM. Selain tidak ada bunganya, uang setorang per bulannya tidak terlalu berat. Sebulan dua ratus lima ribu rupiah - kalo lancar hitung-hitung 10 bulan dah lunas", ungkapnya senang. (Nurbaiti)


Keterbatasan tidak harus selalu menyisakan kepedihan. Banyak cerita mereka yang senantiasa menjaga pandangan positif, bisa melalui hidup sulit dengan perasaan gembira. Kuncinya adalah berpikir luas bahwa nikmat Allah itu tidak terbatas. Ia bisa datang dari mana saja. Dan kuncinya adalah silaturahim. Karena silaturahim mampu mengundang rizki.





0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







DSIM Aktual (52)
From Chairman (14)
Gugah (57)
Hikmah (59)
IdeA (32)
Keajaiban Sedekah (29)
Mozaik (63)
Mulia Parenting (4)
Tahukah Anda (30)






ACT (2)
Akikah Mulia (3)
Kemanusiaan (1)
Kurban 1430 H (5)
LKC (4)
LMPI (5)
MU (5)
Ramadhan (1)
Tabungan Kurban (2)





• 17 Juni 2010
Aksos di Talang Andong, Banyuasin

• 15 Juni 2010
Poskes dan PMT di Tegal Binangun Plaju

• 15 Juni 2010
Penyerahan Infak siswa-siswi Nurul Fikri melalui DSIM

• 29 Mei 2010
Familly Gathering Siswa Kelas 6 SDIT Izzuddin

• 15 Mei 2010
Seminar & Bedah Buku "Saat Berharga Untuk Anak Kita"












Anda pengunjung ke




Add DSIM as friend

Profil Facebook Dsim Palembang



Pagerank Info

PageRank

PagerankAlexa.Com

PagerankAlexa.Com



Lingkar Sinergi











e-zakat









Darimana Anda mengenal DSIM?

Buletin Jumat
Newsletter
Spanduk
Facebook
Lain-lain
Teman

Hasil Poling