Senin, 26 April 2010 - 16:52:42 WIB
Hikmah
Mengisi Ruang Jiwa Anak Kita
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Hikmah
- Dibaca: 115 kali
Waktu kita sangat pendek. Anak-anak itu tak selamanya kecil. Pada saatnya mereka akan tumbuh dewasa, mandiri dan berkeluarga. Kalau mereka sudah menikah, tak ada lagi kesempatan bagi kita untuk meniupkan balon, bermain petak umpet, membacakan buku cerita, atau mewarnai bersama. Betapa pun inginnya kita, sudah tidak mungkin lagi menyuapi mereka seraya bercanda dan memuji gambar bikinannya yang lebih mirip lidi berserakan.
Kalau Allah Ta'ala beri mereka umur panjang, sebelum habis kekuatan kita untuk berjalan dengan tegak dan berbicara dengan suara lantang, anak-anak kita yang kemarin merengek meminta perhatian kita itu sekarang mungkin sudah sibuk memenuhi jadwal kegiatannya yang sangat padat. Anak-anak yang kemarin menahan tangisnya karena kita tak kunjung mau mendampingi mereka untuk menuturkan cerita, hari ini mungkin kita yang harus belajar menahan diri karena sangan ingin mendengar cerita tentang mereka dari lisan mereka sendiri.
Sungguh, kehidupan kita dan anak-anak kadang seperti pusaran nasib yang sedang dipergilirkan. Saat anak kita lahir, mereka sepenuhnya bergantung kepada kita. Inilah saat yang paling berharga untuk anak kita. Tetapi justru inilah saat yang sering kita abaikan karena boleh jadi kita tidak merasa membutuhkan mereka. Semakin bertambah umurnya, semakin berkurang ketergantungannya kepada kita. Mereka mungkin masih memerlukan kita, tetapi karena sudah tidak terlalu tergantung, mereka bisa mengalihkannya kepada orang lain.
Saat usianya memasuki remaja, posisi kita semakin lemah. Mereka lebih mendengar temannya daripada orang-orang tuanya sendiri. Kata-kata orangtua tak lagi berharga, kecuali jika kita sudah menabung kedekatan dan penghormatan semenjak mereka masih balita. Jika anak-anak itu tidak memiliki penghormatan yang tinggi kepada orangtuanya, maka gurauan teman jauh lebih mereka dengar daripada sapaan paling tulus dari orangtua. Secara alamiah, anak-anak yang telah memasuki usia remaja memiliki kebutuhan eksistensi. Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak untuk menentukan.
Tak lama lagi mereka akan menikah. Sesudah berlalu masa remaja, datanglah masa dewasa. Inilah masa ketika anak-anak yang dulu merindukan bapaknya itu sudah benar-benar mandiri. Mereka tak lagi memerlukan orangtua, kecuali jika iman menancap kuat di hati mereka. Inilah yang menjadi kekuatan dalam diri mereka untuk berkhidmat pada orangtua. Jadi, sebenarnya mereka berkhidmat bukan karena sangat besarnya kerinduan dan penghormatan pada orangtua, tetapi karena dorongan untuk meraih ridha Allah 'Azza wa Jalla.
Alhasil, shalih dulu baru doa. Seribu tangan yang terangkat untuk mengaminkan doa saat kenduri, tak ada nilainya dibanding bersimpuhnya seorang anak di hadapan Allah Ta'ala karena amat besar keinginan untuk memohonkan ampunan bagi orangtua. Doa yang diucap-kan dengan lantunan indah disertai kalimat yang bersanjak-sanjak, tetapi ia tak punya hubungan apa-apa dengan yang didoakan kecuali sebagai pendoa suruhan, sungguh tak ada artinya dibanding sebaris permohonan yang diucapkan oleh anak-anak kita sendiri. Jadi kapan kita hendak mengisi ruang jiwa anak kita sebelum ia dewasa? (*)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




