Senin, 10 Mei 2010 - 15:20:46 WIB
Monalisa (39)
Berjualan untuk Membantu Suami
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah
- Dibaca: 77 kaliGelak tawa berderai anak-anak yang bermain sore itu menambah suasana riang disekitar rumahnya. Tak hanya anak laki-laki yang bermain bola tapi anak perempuan juga sibuk main masak-masakan. Celoteh mulut mereka gaduh, menambah semarak lingkungan rumahnya yang boleh dikatakan cukup padat penduduk. Tak jarang di sela suara permainan mereka, terdengar ada anak yang memanggil, "Bik, beli sosis sikok," atau "Bik, beli pempek panggang duo jangan pake cabe ye..."
Dengan sigap, Monalisa (39) melayani permintaan pelanggan ciliknya itu. Rata-rata yang membeli dagangannya - berupa sosis dan pempek panggang, memang anak kecil. Harga yang ditawari sama mereka juga sangat murah di zaman yang serba mahal setelah krisis moneter melanda negeri ini. "Cuma Rp. 500. Yo, saya sesuaikan dengan uang jajan mereka, karena kalau lebih dari harga itu bisa-bisa jualan tidak laku," tuturnya di sela-sela kesibukan.
"Saya berjualan ini sebenernya bantu suami saja. Sedangkan, Suamiku berjualan air galon sama gas kiloan. Tidak banyak memang, karena memang modal yang kami punya sedikit dan usaha air galonnya sebenarnya juga punya keponakan. Jadi suami saya menjualnya dari rumah ke rumah", ujarnya tersenyum.
Dengan ekonomi keluarganya yang begitu pas-pasan ini, mau tak mau sebagai istri ia juga harus memutar otak agar bisa bantu perekonomian keluarga. Apalagi saat ini sudah punya tiga orang anak dan tahun ajaran baru ini anak tertuanya akan masuk SMP. "Sedang anak kedua sekarang masih di SD dan yang terkecil berumur 2 tahun lebih.
Kalo mau jujur, jualan sosis dan pempek panggang ini tipis nian untungnya. Jadi, kalau dihitung-hitung, tidak terlalu bisa membantu perekonomian keluarga", ungkapnya. "Namun, setidaknya uang hasil jualan ini selalu saya masukkan ke celengan tiap hari sehabis jualan.Jadi celengannya baru akan dibuka sewaktu anak pertamaku mendaftar ke SMP nanti", harapnya optimis. "Uang pendaftaran masuk sekolah sekarang begitu mahal dengan ekonomi kami yang serba terbatas. Tapi tidak apa-apa yang penting anak-anak bisa sekolah bahkan kalau bisa sampai Perguruan Tinggi".
Ibu tiga orang ini, berjualan sosis dan pempek panggang di teras rumahnya yang sangat sederhana. Berbekal kompor gas hasil pembagian pemerintah waktu itu dan kuali sudah bisa menjadi modal yang tak harus dibelinya lagi. "Jadi, saya tinggal membeli minyak makan dan sosis serta bahan pempek di 10 Ulu. Pasar yang tak terlalu jauh dari rumah. Cukup berjalan kaki saja. Mau minta antar suami, ia sibuk ngider jualan air galon atau gas. Jadi saya tidak ingin mengganggu kalau sekedar membeli kebutuhan jualan", ujarnya datar.
Jarak yang ia maksud, sebenarnya kalau ditempuh berjalan kaki dari rumah cukup jauh. Jaraknya ada sekitar 1,5 km. "Sekalian menghemat uang oplet. Dibawa senang saja berjalannya. Hitung-hitung olahraga pagi dan secara tidak langsung menyehatkan badan", jawabnya.
Walau kehidupannya boleh dibilang pas-pasan, ia sangat bersyukur keluarga yang bahagia. "Tidak hanya suami yang baik tapi juga ketiga anaksaya yang bisa dikatakan tidak bandel dan menurut dengan orangtuanya", katanya bangga. "Sebisa mungkin kami tidak mengeluh. Apalagi untuk urusan kesehatan sudah ada LKC. Jadi kami bisa berobat gratis di sana. Terima kasih LKC, terima kasih juga kepada donatur yang dermawan yang telah menginfakkan sebagian rezeki mereka sehingga LKC bisa terus mengobati orang-orang seperti kami. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan rizki yang melimpah dan berkah, Amin", tutupnya. (Kartini)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




