Selasa, 18 Mei 2010 - 11:00:40 WIB
Kajian Keislaman
Bila Shalat kita tak Sempurna
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Mozaik
- Dibaca: 103 kali
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah saw menjumpai dirinya (Abu Hurairah, red) yang sedang memegangi perutnya. Beliau bertanya, "Apakah kamu sakit perut?" Ia menjawab, "Benar," Beliau bersabda, "Berdirilah dan kerjakan shalat. Sesungguhnya dalam Shalat itu ada kesembuhan".
Sungguh beruntung kita yang dianugerahi keislaman, baik sejak lahir maupun mendapat hidayah pada saat dewasa. Dengan kelengkapan ajarannya, seorang muslim tiada perlu meraba-raba lagi akan kemana arah hidup. Dan bagaimana solusi paling jitu dalam menyelesaikan permasalahan. Apa tujuan dan bagaimana cara mencapainya, semuanya sudah disempurnakan dalam ajaran Islam.
Mari kita mulai dengan shalat kita. Ajaran unik dari baginda Rasul yang ia terima sebagai perintah saat Isra' Mikraj ini, ternyata mempunyai beragam khasiat dan kemanfaatan. Tidak hanya dari segi fisik namun juga dari segi ruhani. Dengan shalat yang benar kita akan mendapatkan ketentraman jiwa. Dalam hubungan muamalah, shalat yang baik akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Menjauhkan sifat tamak dan loba.
Namun sayangnya, kita sedikit mendapatkan contoh tentang orang yang baik dalam shalatnya. Karena kita selalu dijelali dengan berita-berita miring tentang 'oknum' pengerja shalat ini. Lihat, betapa mirisnya kita, saat berita korupsi memuncak tersangkanya adalah orang muslim. Saat berita kriminal, yang tertangkap orang muslim juga. Namanya pun bagus, nama-nama islami. Tapi sayang kelakuannya bejat. Akhirnya, kita pun tergugu begitu saja dengan justifikasi pemberitaan yang belum sepenuhnya benar itu.
Maka, desakralisasi ajaran Islam pun dimulai dari shalat. Dan dimanfaatkan oleh kaum Islamphobia. Untuk apa shalat, kalo masih suka menggunjing.Untuk apa taat shalat lima waktu kalo masih suka makan uang rakyat?
Tentu saja menghadapi cemoohan seperti ini, maka jawaban tegasnya adalah bukan shalat yang salah. Tapi kitalah yang tidak benar dalam mendirikannya. Mari mengukur seberapa kualitas shalat kita. Apakah bisa menggapai shalat khusyuk bila dikerjakan dengan tergesa? Apakah bisa mencegah perbuatan keji dan munkar, bila selama shalat pikiran kita melayang kemana-mana?
Padahal, Rasulullah saw sendiri memberlakukan shalat dengan istimewa. Ia bukan lagi sekedar kewajiban. Ia telah menjelma menjadi kebutuhan dan bagian dari pelengkap kebutuhan itu sendiri. Lihatlah hadist di muka tadi, Rasulullah menyebut ada kesembuhan di dalam shalat. Atau, ketika tengah dalam perjalanan, Rasulullah menyuruh Bilal untuk adzan, sehingga mereka bisa istirahat dengan shalat.
Nah, sekarang periksa kembali hubungan kita dengan Shalat. Sejauh mana kita telah menganggapinya? Sebagai kewajiban yang tak mempunyai pengaruh apa-apa dalam hidup atau sebuah beban yang hanya jadi penghalang dari aktivitas sehari-hari? Naudzubillahimindzaalik..







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




