Kamis, 27 Mei 2010 - 12:47:08 WIB
Layanan Masyarakat dan Pengembangan Insani (LMPI)
Bantuan untuk Kebakaran Cinde
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: DSIM Aktual
- Dibaca: 50 kaliJumat (23/4) tim survey DSIM berangkat ke lokasi kebakaran yang terletak di daerah Cinde, tepatnya di Jalan Candi Welan dengan berbekal bantuan yang memungkinkan dan seadanya. Informasi ini dikirim oleh seorang relawan yang juga menjadi korban.
"Kita sekalian ke lokasi untuk melihat kondisi yang sebenernya dulu. Berapa korban, apa yang dibutuhkan. Biar nanti kalau DSIM mau ngasih bantuan, bisa dipersiapkan bantuan yang bener-bener dibutuhkan oleh mereka," tukas Yuliani, staf Layanan Masyarakat & Pengembangan Insani (LMPI) yang mengkoordinir.
Setelah meng-SMS relawan yang menunggu disana, rombongan melintasi lorong sempit yang hanya mampu menampung jalan satu mobil tersebut. Jalan menuju lokasi cukup padat. Kiri-kanan jalan dipenuhi oleh penjual besi-besi, barang bekas, dan tukang kunci yang berada di kanan-kiri bahu jalan.
Dari kejauhan, tak jauh dari mulut lorong, di sebelah kanan kami terlihat sekumpulan rumah yang tampaknya habis terbakar.
Tidak berteriak
Musibah Kebakaran itu sendiri terjadi tepat pada hari Kamis (15/4), siang hari sekitar pukul satu. Menurut cerita warga, saat itu ada seorang ibu yang sedang memasak namun sambil ditinggal mengerjakan yang lainnya. Tiba-tiba, ketika kembali lagi ke dapur, ia kaget api sudah menyala-nyala di dalamnya. Bukannya berteriak atau meminta tolong dengan tetangga, si ibu tadi malah keluar rumah untuk memberitahukan suaminya yang saat itu sedang bekerja sebagai tukang kunci di pinggir jalan Candi Welan.
Otomatis, api yang bersumber dari tabung gas tiga kiloan ini meledak dan api sudah menjalar ke rumah di kanan-kirinya.
"Rumah aku kan di bawah, aku lagi begawe, pas kujingok api tu dari pucuk rumah aku. Nak mak mano lagi, banjir banyu bae kudiemke. Aku dak pacak berenang, apolagi api," tutur Nenek yang ada di lokasi pada saat itu.
Beruntung pemadam kebakaran segera datang dan mengambil tindakan antisipatif. Berdasarkan penuturan seorang Bapak di sekitar lokasi, kebanyakan rumah yang terbakar dan rumah-rumah lainnya di sekitar lokasi itu hanya pondasinya saja yang menggunakan semen, tetapi dindingnya masih menggunakan kayu. Otomatis api sangat mudah dan cepat untuk merambat.
Total ada tiga rumah (tujuh KK) yang terbakar siang itu. "Cuma baju di badan bae yang tesiso," ujar si Nenek lagi. Pada saat kebakaran terjadi, relawan DSIM yang juga menjadi korban, Devi, saat itu sedang kuliah ke Indralaya (Universitas Sriwijaya).
"Cuma ijazah yang tersisa, karena sudah dikemas dalam satu koper, jadi saat kejadian Bapak tinggal ngangkat. Sedang yang lain jangan harap. Surat tanah saja hangus dilalap kebakaran," cerita Devi.
"Alhamdulillah (yang penting) kami selamat, keluargo kami katik yang jadi korban. Kalu harto bisolah beguyur dicari. Tapi kalo nyawo nak belinyo dimano? Alhamdulillah, ado yang la ngasih baju, mako pacaklah kami besalin," tegas Nenek dengan tegar.
Bantuan seperti batu bata dan pakaian layak pakai sudah diterima dari tetangga dan teman-teman. Bantuan kita yang lain pastilah sangat bermanfaat. Sanak saudara bisa menampung untuk tinggal sementara. Saat ini, mereka masih bergotong-royong membangun kembali tempat tinggal. Pondasi baru dipersiapkan untuk 'bakal' rumah baru. Anda tergugah untuk membantu? Kami siap menyampaikannya. (KJ-04/Reni triasari)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




