Rabu, 30 Juni 2010 - 15:36:52 WIB
Kajian Keislaman
Berkata Baik atau Lebih Baik Diam
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Mozaik
- Dibaca: 143 kali
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya". (HR Bukhari). "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya". (QS. Al Isra' : 36)
Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah saw juga bersabda : "Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya". Beliau juga bersabda : "Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah kemungkaran".
Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.
Sebagian ulama berkata: "Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat Hadits, antara lain adalah Hadits "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam". Sebagian ulama memaknakan Hadits ini dengan pengertian; "Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah".
Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.
Allah berfirman : "Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan 'Atid". (QS.Qaaf : 18). Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu 'Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat pembalasan.
Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan, "Adapun sabda Nabi saw 'Maka hendaklah ia berkata baik atau diam", menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah saw dalam sabdanya menggunakan kata-kata "hendaklah untuk berkata benar" didahulukan dari perkataan "diam".
Berkata baik dalam hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma'ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya. Wallahualam bishawab.







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




