Rabu, 12 Agustus 2009 - 14:43:39 WIB
Sedekah ke Anak Yatim
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Keajaiban Sedekah
- Dibaca: 1556 kali
Saya termasuk yang rutin membaca tulisan artikel Ustadz Yusuf Mansyur,
di situs wisatahati.com. Terutama mengenai amalan sedekah. Awalnya saya
sendiri tidak tahu akan memulainya dari mana. Salah seorang teman saya
bercerita mengenai anak yatim di lingkungan rumahnya. Sehari sebelumnya
setelah membaca artikel Ustadz mengenai anak yatim, saya berpikir dari
mana saya bisa mendapatkan tiga anak yatim saja yang bisa saya kasih
sedekah. Soalnya, untuk urusan seperti ini, saya tidak mengerti sama
sekali.
Ternyata Allah mendengar suara hati saya, teman saya tadi bercerita
bahwa di lingkungan rumahnya terdapat 3 anak yatim sama seperti yang
saya inginkan. Alhamdulillah, sekarang sudah terealisasi impian saya
tersebut, meski baru beberapa kali. Insya Allah saya ingin rutin
sepanjang hidup saya. Mohon doanya.
Pengalaman yang menarik buat saya, suatu ketika saya ingin sekali
bersedekah (rutin tiap bulan). Namun pada saat itu uang saya mepet,
sementara kebutuhan lainnya menumpuk. Karena saya sudah berjanji pada
diri saya untuk selalu bersedekah akhirnya saya keluarkan uang saya.
Hari Kamis tanggal 6 Maret siang, saya ketemu dengan teman (melalui
dialah, saya biasa menitipkan uangnya). Sesampainya di kantor, jam
16.15-an, saya mendapatkan nota dinas yang isinya menugaskan saya untuk
ikut pelatihan selama 5 hari. Saya berpikir apakah ini ya, arti dari
yang disebutkan Pak Ustadz bahwa jika kita bersedekah maka nilai yg
akan kita terima 10 kali lipatnya.
Perlu diketahui bahwa SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas, red)
selama perjalanan dinas saya (5 hari tadi) nilainya 10 kali lipat dari
apa yang saya sedekahkan. Dan setelah dipotong dengan biaya makan,
menginap dan perjalanan nilainya sama dengan kebutuhan yang saya harus
penuhi. Alhamdulillah, ternyata Allah mencukupi kebutuhan saya, seperti
doa saya. Satu hal yang saya herankan waktu pengiriman tugas, atasan
saya tidak pernah mengajukan saya untuk ikut diklat.
Tetapi nama saya tercantum di situ. Setelah saya tanya kepada teman
yang lain, di bagian diklat ternyata surat itu harus keluar paling
akhir pada tanggal 6 Maret, dan surat dinas tersebut keluar pada jam
15.30-an. Nama saya dicantumkan di situ karena pihak proyek belum
mengeluarkan list nama peserta padahal waktunya sudah habis. Maka
dicantumkanlah nama saya. Mulanya saya ingin membatalkannya, tapi ini
kesempatan bagi saya untuk mengikuti diklat, tambah ilmu dan wawasan
tentunya.
Akhirnya saya berangkat, meski ada teman saya yang tidak setuju. Pada
saat diklat, peserta perwakilan keseluruhan (harusnya) 5 peserta karena
saya ikut jadi 6 peserta. Menjelang hari H, saya berkeinginan pulang,
tidak jadi ikut pelatihan. Teman saya (panitia) berusaha meyakinkan
saya untuk tetap ikut. Tetapi saya tidak enak hati (soalnya, total
peserta hanya 25), namun saya putuskan untuk tetap tinggal.
Keesokan harinya pada saat mulai acara diklat, ternyata total peserta
tercapai 25 orang, salah satu teman saya (yang diusulkan ternyata sakit
dan tidak dapat mengikuti diklat) dan secara otomatis saya ditunjuk
sebagi badal (pengganti, red). Sekali lagi saya berpikir, apakah ini
jalan yang telah digariskan Allah untuk saya, Subhanallah! (Ditulis oleh: Mardeni Dzalila ) 






Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




