Selasa, 25 Agustus 2009 - 15:58:58 WIB

Doa yang Dijawab Seketika
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Keajaiban Sedekah - Dibaca: 412 kali


Ditulis Oleh : Bahtiar HS

Dua hari sudah perut tak terisi. Lapar melilit. Lemas rasanya. Lunglai. Kulit pun serasa lepas dari tulangnya. Ketika berjalan, kedua kaki seperti tak lagi kuat menahan beban tubuh yang lain. Terhuyung. Cenderung pening. Sesekali dunia seperti berputar. Segala upaya rasanya telah kucoba. Tetapi, nihil. Bagaimanapun, aku hanyalah mahasiswa ingusan yang baru menginjak semester tiga di kampus ini. Bagaimanapun, dua semester pertama adalah masa penyesuaian diri yang luar biasa bagiku. Semestinya aku lebih berkonsentrasi di kampus. Kuliah. Karena jika tidak fokus, dua semester pertama adalah masa kritis, yang jika tidak lulus dengan nilai minimal, DO mengancam.

Namun, sejak semester dua sudah kuputuskan untuk tidak lagi membebani orang tua lebih berat lagi. Biarlah mereka memikirkan ke-8 adikku yang lain, yang juga masih bersekolah. Biarlah aku menghidupi diriku sendiri di Surabaya ini. Akhirnya aku harus bergerak, bekerja, agar bisa kuliah. Tak kurang jualan tiket seminar, mengajar komputer anak-anak SMP, dan mengajar kursus komputer di kampus sudah pernah aku lakukan. Juga membantu mengetik skripsi, membuat program kecil-kecilan. Dan begitulah yang terjadi; akhir semester dua aku dikeluarkan dari Asrama Mahasiswa karena menunggak biaya sewa hingga 3 bulan lamanya.

Akhirnya aku nebeng tinggal di lab komputer jurusanku. Tak bayar sepeserpun. Tapi aku harus tidur di kolong meja komputer, atau di atas kursi berjajar. Seringkali sendirian. Jangan tanya lagi soal mandi, cuci, jemur pakaian. Dan dua hari telah berselang. Tak sepotong makanan pun masuk ke perutku. Aku tak tahu lagi, apa yang bisa kuperbuat untuk mendapatkan sedikit uang untuk mengisi perut. Meminta bantuan teman, mungkin bisa kulakukan. Tapi, aku tak punya sedikit keberanian.

Maka, selepas salat Jumat, dalam sebuah sujud salat sunah ini aku bermohon dengan permohonan yang panjang dan lugas, "Ya, Allah. Dua hari hambamu belum menyentuh nasi. Dua hari hambamu bertahan dan rasanya tak kuat lagi. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya kepada-Mu aku bermohon. Berikanlah jalan untuk mendapatkan sedikit dari rizqi-Mu untuk meneruskan hidup ini. Secepat mungkin, Ya Allah. Secepat mungkin."

Ketika kemudian bangkit dari sujud dan salam, rasanya sekonyong-konyong aku mendengar sebuah panggilan. Panggilan pada diriku.
"Bahtiar!"
Aku menoleh. Terlihat Mas Iwan Syarif, kakak angkatanku di jurusan, mendekatiku dari arah belakang.
"Ya, Mas," jawabku.
"Kamu bisa bantu temanku mengetik skripsinya? Nggak banyak kok. Paling 70 halaman saja."
"Ya, Mas!" jawabku seketika. "Bisa! Mana naskahnya?"
Mas Iwan segera mengulurkan segepok tulisan tangan, beberapa rumus, dan gambar-gambar. Aku menerimanya dengan tangan gemetaran.
"Besok insya Allah sudah selesai, Mas."

----------------------------------------------------------------------------------------
Aku langsung tersungkur. Tangisku tak tertahan lagi. Betapa doaku langsung dijawab-Nya. Seketika!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
***

Hari ini, Jumat di atas tempatku berpijak yang sama, di masjid yang sama ini, lima belas tahun kemudian. Aku mengenang hari itu. Aku mengenang detik yang menggetarkan dalam perjalanan hidupku itu. Sebuah momen, yang rasanya saat itu Dia begitu dekat denganku. Begitu terasa. Air mataku berlinangan. Menetes perlahan di sela khutbah Jumat di mimbar depan. Bukan karena Dia serasa begitu dekat denganku, sedekat dulu. Namun justru sebaliknya, rasanya kini akulah yang semakin jauh dari-Nya.

Hingga kini, aku belum pernah bisa mengulang doa sebagaimana lima belas tahun yang lalu itu. Belum pernah aku terpekur seperti pada waktu itu. Rasanya betul-betul tak ada tempat bergantung lagi kecuali pada-Nya. Tak seperti kisah tiga pemuda yang terjebak oleh batu besar di dalam goa. Yang ber-tawassul dengan amal-amal terbaik mereka. Yang memakai perantara amal shaleh selama perjalanan hidup mereka. Dan luar biasa, Allah mendengarkan permintaan mereka. Dan batu besar pun bergeser. Mengingat hal itu, barangkali hingga kini aku tak memiliki barang sedikit simpanan kebaikan untuk sekadar bisa mengetuk pintu-Nya. Aku hanya dapat merintih, betapa jauh aku dengan-Mu. Apakah aku harus menjadi miskin terlebih dahulu agar bisa dekat denganmu? Allah ampuni kami...(Tulisan diambil dari situs eramuslim.com.)


1 Komentar :

abah queen
31 Maret 2010 - 09:06:53 WIB

barokallah... bukankah rintihan dan pengakuan diri berlumur dosa serta tidak ada sedikitpun kebaikan adalah suatu kebaikan juga..? smoga Allah senantiasa memeluk kita dengan kasih sayangnya.. dan kita diberi kekuatan untuk pasrah dalam pelukannya... amien..
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







DSIM Aktual (52)
From Chairman (14)
Gugah (57)
Hikmah (59)
IdeA (32)
Keajaiban Sedekah (29)
Mozaik (63)
Mulia Parenting (4)
Tahukah Anda (30)






ACT (2)
Akikah Mulia (3)
Kemanusiaan (1)
Kurban 1430 H (5)
LKC (4)
LMPI (5)
MU (5)
Ramadhan (1)
Tabungan Kurban (2)





• 17 Juni 2010
Aksos di Talang Andong, Banyuasin

• 15 Juni 2010
Poskes dan PMT di Tegal Binangun Plaju

• 15 Juni 2010
Penyerahan Infak siswa-siswi Nurul Fikri melalui DSIM

• 29 Mei 2010
Familly Gathering Siswa Kelas 6 SDIT Izzuddin

• 15 Mei 2010
Seminar & Bedah Buku "Saat Berharga Untuk Anak Kita"












Anda pengunjung ke




Add DSIM as friend

Profil Facebook Dsim Palembang



Pagerank Info

PageRank

PagerankAlexa.Com

PagerankAlexa.Com



Lingkar Sinergi











e-zakat









Darimana Anda mengenal DSIM?

Buletin Jumat
Newsletter
Spanduk
Facebook
Lain-lain
Teman

Hasil Poling