Selasa, 25 Agustus 2009 - 16:03:47 WIB
Dan Janji Allah-Pun Pasti
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Keajaiban Sedekah
- Dibaca: 542 kali
Saya ibu rumah tangga dan bekerja juga di salah satu yayasan sosial di kota tempat saya tinggal. Saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya tentang keajaiban sedekah kepada pembaca semua. Pada tahun 2006, saya tengah mengandung anak pertama. Menjelang waktunya, saya menghadapi hari-hari persalinan dengan perasaan sangat gundah. Betapa tidak, saat itu suami saya baru berhenti bekerja. Dan berada di luar kota. Kami masih tinggal dengan orang tua. Sedangkan Ayah saya saat itu juga sudah tidak bekerja lagi. Termasuk adik-adik saya masih kuliah dan membutuhkan banyak biaya. Resah dan pasrah sekali perasaan saya waktu itu. Harap dan cemas bercampur aduk, menghantui saya.
Saya berdoa pada Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan persalinan saya. Baik kepada fisik saya lebih-lebih lagi terhadap bayi saya. Sembari mengumpulkan motivasi dan semangat sebanyak-banyaknya, saya pun menyimak nasehat ibu. Dan saya ikuti, agar persalinan saya normal dan tidak ada apa-apanya. Apalagi mengingat kondisi kami saat itu serba kekurangan.
Menjelang saya akan melahirkan, suami saya tidak berada di rumah. Ia berada di tempat orang tuanya, membantu menyadap karet. Dan, waktunya pun menjelang. Saya mulai merasakan sakit dari jam 2 dini hari sampai pukul 4 sore keesokan harinya. Bayangkan, kurang leih selama 14 jam, saya harus bergulat dengan rasa sakit yang begitu melilit. Kakak sulung saya tidak tega dengan penderitaan yang dialami saya. Ia menganjurkan agar saya ke rumah sakit saja. Tapi saya terdiam dan hanya bisa menangis pilu. Khawatir memikirkan dari mana biaya persalinan akan didapat. Melihat saya menangis, air mata ibupun ikut meleleh di pipinya. Dan semua itu membuat saya merasa semakin bersalah.
Akhirnya, dengan segala bentuk kepasrahan yang kami miliki sekeluarga saat itu, saya berangkat juga ke rumah sakit bersalin sore itu juga. Tepat pukul 17.30 wib, saya bisa melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu dengan normal. Kebahagiaan saya terasa semakin lengkap, karena pada saat-saat kritis, suami saya tiba di rumah sakit dan turut mendampingi saya. Alhamdulillah biaya persalinan saya tidak sampai Rp 500.000,- pas dengan uang tabungan saya.
Satu minggu setelah persalinan, saya dipusingkan oleh tagihan kredit motor ditambah pula dengan menumpuknya kebutuhan anak saya. Tapi saya mencoba pasrah kepada keputusan Allah dan bersabar. Kepasrahan saya membawa saya kepada perenungan. Mencoba memahami arti hidup dan berpikir positif tentang semua takdir-Nya. Ketika tengah larut dalam renungan, sekitar jam 13.30 datang seorang pembersih kuburan yang keliling kampung. Saya tidak sengaja melihatnya melalui jendela rumah. Ia lalu naik ke rumah kami dan mengetuk pintu rumah.
Adik saya yang membukakan pintu. Sesaat kemudian ia menyodorkan kertas bukti pembersih kuburan umum kepada adik saya. Saat itu uang yang ada di dalam kantong saya hanya ada Rp 5000,-. Dengan perasaan seikhlas-ikhlasnya, saya berikan uang itu kepada pembersih kuburan tadi. Sembari dalam hati, saya memanjaatkan doa, "Ya Allah, saya yakin Engkau akan memberikan rezeki dengan yang lebih baik lagi, walaupun saya tidak memegang uang seratus rupiah pun." Setelah berdoa, hati dan perasaan saya menjadi tenang dan sangat ikhlas.
Satu minggu setelah kejadian itu bapak mertua saya datang melihat cucu dan saya. Bapak saya menginap satu malam dan bermaksud juga untuk berjalan-jalan di kota. Malam harinya bapak menghampiri saya dan mengatakan, "Bapak tidak bawa apa-apa untuk kamu, karena bapak tidak tahu kebutuhan kamu apa. Ini ada uang sedikit mudah-mudahan cukup untuk keperluan kamu." Seakan tak percaya, saya terima uang itu. "Terima kasih Pak", kata saya terharu menerima uang pemberian bapak". Malam itu juga di dalam kamar, saya hitung uang dari bapak. Alhamdulillah, jumlahnya ternyata Rp 500.000,-.
Dalam hati saya sangat bersyukur, ternyata uang Rp 5000,- yang saya sedekahkan diganti Allah dengan Rp 500.000,-. Sepuluh kali lipat.
Esok siangnya, langsung saya suruh suami untuk membayar kredit motor. Sisanya untuk membeli obat dan berbagai keperluan bayi kami.
Saya semakin yakin dengan kepastian janji Allah pasti. Dan itu telah terjadi pada saya. "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasannya)." Al-zalzalah :7. Mudah-mudahan sedekah yang saya keluarkan, walaupun tidak dalam bentuk materi mendapatkan keridhaan Allah. Amin. (Palembang, Hamba Allah)







Anda pengunjung ke
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Lingkar Sinergi


e-zakat




